CERITA KAMI

Membangun NKRI dalam Terang Iman Katolik

08-06-2019 09:18

Seminar dan Bedah Buku ”Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI”

Bapak Kardinal dengan buku baru beliau telah memberikan sekaligus ‘membeberkan’sumbangan-sumbangan yang diberikan Gereja Katolik untuk bangsa dan negara tercinta, Indonesia. Hal ini tampak jelas dalam kisah-kisah yang dituliskan Bapak Kardinal dalam buku beliau Úmat Katolik Dipanggil untuk Membangun NKRI”. Halnya menjadi semakin jelas, ketika buku Kardinal ini dibedah oleh seorang Pastor pemerhati pendidikan, Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr dalam acara Seminar dan Bedah Buku Membangun NKRI dalam Terang Iman Katolik di Auditorium St. Thomas Aquinas, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pemateri lain, Bapak Dr. Y. Agus Tridiatno mengulas banyak hal terkait aksi nyata Gereja Katolik sejak abad ke-18 dalam keterlibatannya menegakkan demokrasi di dunia.

Rama Basilius Edy Wiyanto (yang saat ini bekerja di Yayasan Dinamika Edukasi Dasar [DED], atau lebih dikenal dengan julukan Sekolah Mangunan) membagikan pengalamannya dalam dunia pendidikan dengan memberi judul pada materinya, “Umat Katolik dipanggil Membangun NKRI, Oase Spirit untuk Membangun Bangsa”. Ajakan Rama Edy ini berangkat dari buah consideratio status, bahwa umat Katolik mengasihi Allah dan menghormati martabat sesama karena mempunyai kesadaran, kepekaan, dan paham akan situasi yang ada, lalu mampu memilah dan memilih, sehingga terwujud dalam bentuk pengampunan (sebuah pertobatan terus-menerus) yang ditegaskan dalam aksi-aksi nyata. Bapak Kardinal melalui buku beliau telah menunjukkan sebuah teologi kontekstual yang murni, bertitik tolak pada realita keprihatinan yang dihadapi mampu merefleksikan iman dengan referensi Kitab Suci dan Dokumen Ajaran Gereja, fakta sejarah, dan keteladanan para tokoh.

Upaya apa yang bisa dilanjutkan oleh generasi zaman sekarang supaya oase spirit untuk membangun bangsa ini tidak kering. Ada setidaknya tiga hal yang bisa dilakukan, antara lain: pembaruan mental, optimisme dalam pertobatan, dan konsistensi pada ideologi bangsa demi kesejahteraan bersama, menghayati iman dari sisi batin dan nilai-nilai luhur iman. Ketiga hal tersebut bisa dilakukan generasi zaman sekarang dengan turut melestarikan keberagaman di sekitar lingkungan masing-masing. Tentu ajakan ini tidak sekadar ajakan belaka, namun berangkat dari fakta bahwa Indonesia ini multikultural, dan masih dibutuhkan upaya nyata untuk mengapresiasi keberagaman ini. Tidak perlu jauh-jauh, cukup dimulai dari lingkungan (budaya) sekitar, karena di situlah inang tumbuh berkembangnya Pancasila. Contoh konkret yang sudah melakukan ini adalah (alm.) Rama Y.B. Mangunwijaya yang mengawali karya di dunia pendidikan dengan sekolah mangunan yang menggunakan kurikulum khusus, yaitu pohon kurikulum mangunwijaya. Sampai saat ini masih terus dikembangkan dan dilanjutkan oleh generasi penerus.
Pembedah buku kedua, Bapak Agus Tridiatno memberi judul materinya, Kami akan Membangun NKRI. Tulisan ini berangkat dari sebuah ungkapan syukur karena diberi warisan yang sangat berharga oleh Bapak Kardinal Yulius Darmaatmadja, yaitu refleksi teologis yang mendalam tentang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. “Kita diajak untuk hidup di NKRI ini selaras dengan martabat kita sebagai ciptaan Tuhan yang sungguh berharga. Dengan terang iman Kristen, kita diajak hidup selaras dengan sila-sila Pancasila. Kita memahami sila-sila Pancasila dengan terang nasihat-nasihat Injil dan mewujudkan secara nyata sila-sila tersebut demi kesejahteraan hidup bersama semua orang (bonum commune)”.

Kita juga patut beryukurlah bahwa tokoh-tokoh Katolik juga turut terlibat di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia hingga saat ini. Rama van Lith, Mgr. Soegijapranata, I.J. Kasimo, Ign. Slamet Riyadi, Ag. Adi Soetjipto, Maria Soelastri Sasraningrat, Cornel Simanjuntak, J.B. Sumarlin, dll. adalah tokoh-tokoh Katolik yang harus diteladani. Kita pun diajak untuk terlibat secara aktif di dalam membangun NKRI.

Pada sesi inti, Bapak Kardinal mengungkapkan kegembiraannya bisa membagikan pengalamannya selama menjadi imam, uskup, dan kardinal di Indonesia. Terlebih dalam rangka bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama lain dalam membangun NKRI. Beliau tampak gembira ketika didatangi oleh Bapak Mahfud MD dan tim Gerakan Suluh Kebangsaan, dan mengajak Bapak Kardinal untuk turut menjadi pembicara di beberapa tempat di sekitar Jawa Tengah. Rupanya di tengah usia yang sudah tidak lagi muda, sosok Kardinal kedua Indonesia ini menjadi salah satu sosok idola para tokoh dan sahabat dari kalangan lain.

Acara yang dihadiri sekitar 300-an peserta dari berbagai kalangan, baik itu umat dari paroki-paroki di sekitar Yogyakarta, juga dari para pemerhati pendidikan, dan generasi penerus, para mahasiswa-mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kemeriahan semakin terlihat ketika panitia membagikan 10 buku Bapak Kardinal yang sudah ditandatangani oleh Bapak Kardinal sendiri kepada peserta yang beruntung.

*Widiantoro