CERITA KAMI

Cendol Dawet Seger 700-an misdinar Sekevikepan Surakarta (Temu Raya Misdinar Sekevikepan Surakarta)

05-07-2019 09:35

‘’Aku Bangga Menjadi Misdinar di Era Milenial” adalah sebuah tema besar yang terpampang di aula SMA St. Yosef Surakarta hari Minggu, 23 Juni 2019. Ada yang mengatakan bahwa anak-anak adalah anak zamannya. Kiranya hal ini benar adanya. Demikan juga dengan para misdinar yang saat ini berusia antara 10 hingga 17 tahun adalah anak zaman ini. Para misdinar zaman ini sangat familier dengan berbagai macam media sosial yang sedang tren. Hal ini tampak dari perbincangan pembicara dengan peserta dalam acara “Temu Raya Misdinar Sekevikepan Surakarta” yang diselenggarakan pada 23 Juni 2019 di aula SMA Santo Yosep, Surakarta.

Cerita Kami kali ini lebih seru ditemani Fr. Christian dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan--Fr. Oot nama populernya red.--yang menjadi pembicara utama dalam acara yang selalu dirindukan oleh anak-anak misdinar. Mengawali sesinya, Fr. Oot mengadakan survei dengan mencari tahu berapa jumlah pemilik akun instagram di antara peserta. Ternyata, hampir semua peserta--dari sekitar 700 orang yang hadir--mengangkat tangannya. Woow, luar biasa kan ya. Untuk menantang para misdinar ini, Fr. Oot mengajak mereka untuk follow akun instagram @penerbitkanisius dan @ootchris. Challenge berhadiahnya, para misdinar diminta untuk mengambil gambar dan diungah di akun instagram masing-masing, tentu harus tag akun @penerbitkanisius dan @ootchris. Caption terpilih yang paling kece hore cendol dawet (begitu istilah Fr. Oot) akan mendapatkan hadiah menarik dari Fr. Oot dan Penerbit Kanisius. Hadiah juga akan langsung dikirimkan dari Seminari Tinggi Kentungan oleh Fr. Oot. Gimana…gimana… masaaa pada gak mau… .

Dalam pemaparan materinya, Fr. Oot mengajak para misdinar untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Misalnya, tidak sembarang berbagi tautan tanpa cek terlebih dahulu. Media sosial haruslah digunakan untuk semakin memperat kebersamaan dengan teman dan saudara. Fr. Oot juga mengingatkan bahwa misdinar adalah anak-anak Tuhan yang penuh belas kasih. Maka, melalui media sosial yang dimiliki, hendaknya misdinar pun membagikan belas kasih Tuhan melalui medsos. Selain itu, hendaknya, misdinar-misdinar pun menggunakan media sosial sebagai sarana pewartaan kabar gembira Kristus. Melalui WA-story dan insta-story, teman-teman misdinar bisa saling berbagi perikop Kitab Suci. Fr. Oot juga ngajak para misdinar menyerukan yel-yel cendol dawet seger lhooo… seru banget…bisa cek di Instagram Fr. Oot atau youtube-nya yaaa…

Acara hari ini semakin menarik dengan pembagian doorprize dari PT Kanisius untuk peserta berupa buku-buku bacaan berkualitas untuk remaja. Setelah acara makan siang, para peserta diajak untuk berkumpul dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok berisi misdinar dari paroki-paroki yang berada di Kevikepan Surakarta. Dalam kelompok ini, mereka diajak untuk saling menjalin jejaring antar misdinar sekevikepan Surakarta. Salah satu cara yang dilakukan untuk berkenalan juga unik, misalnya saja, dalam salah satu kelompok, para peserta diminta untuk membuat lingkaran, melepaskan sepatu dan mengumpulkannya di tengah lingkaran. Lalu secara bersamaan para peserta berebut mengambil sepatu yang terkumpul. Peserta membentuk lingkaran besar dan menunjukkan sepatu yang dibawa lalu memperkenalkan diri. Pemilik sepatu pun diminta memperkenalkan dirinya. Acara dinamika kelompok berjalan dengan sangat menarik dan asyik.

Acara temu raya misdinar sekevikepan ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Rama Vikep Surakarta, Rm. Robertus Budiharyana, Pr., didampingi Rama Moderator Komisi Liturgi Kevikepan Surakarta, Rm. M. Widiyoko, Pr., beserta beberapa Rama paroki lain.

Yang tak kalah menarik, Fr. Oot yang juga aktif sebagai youtuber, telah mengunggah kegiatan Temu Raya Misdinar Sekevikepan Surakarta pada akun youtube beliau, berikut tautannya, https://www.youtube.com/watch?v=xTcfxuIqVMM . Boleh lho disubscribe…

Semoga makin menginspirasi misdinar zaman milenial. Salam cendol dawet seger!

 

*Anton Prima