CERITA KAMI

MENJADI LEKTOR BERBAHASA JAWA DENGAN PRIMA Workshop Lektor Berbahasa Jawa

05-07-2019 09:56

Minggu pagi, 26 Mei 2019, PT Kanisius kembali diramaikan oleh para lektor yang berdatangan memenuhi Ruang Kepodang. Mereka berasal dari paroki-paroki di Kevikepan DIY dan dari luar Kevikepan DIY (Paroki Administratif St. Aloysius Mojosongo, Solo dan Gereja St. Ignatius Ketandan, Klaten). Hampir 200 orang lektor memenuhi ruang Kepodang PT Kanisius. Bersama-sama mereka mengikuti workshop Lektor Bahasa Jawa yang terselenggara dalam kerja sama antara Komisi Liturgi Kevikepan DIY dan PT Kanisius.

Kegiatan ini dilatarbelakangi paling tidak atas dua poin penting. Pertama, saat ini masih banyak paroki-paroki yang mengadakan Perayaan Ekaristi menggunakan Bahasa Jawa. Kedua, banyaknya permintaan dari para pemerhati Liturgi Bahasa Jawa, terkhusus untuk para lektor, akan adanya sebuah penyegaran tentang Lektor Berbahasa Jawa. Maka, atas dua poin ini dibuatlah kegiatan workshop singkat Lektor Berbahasa Jawa.

Acara ini menjadi semakin menarik karena dimoderatori sekaligus dipimpin oleh seorang frater dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Fr. Christian (red. Frater Oot). Untuk membuka acara, Fr. Oot mengundang Kepala Departemen Gerejawi PT Kanisius, Bapak Chris Subagya, untuk memberikan sambutan singkat dan ucapan selamat datang kepada para peserta dan narasumber yang berkenan belajar bersama-sama di Kanisius.

Ada dua pembicara yang sudah malang-melintang dalam dunia public speaking, mereka adalah Rama Mateus Mali, CSsR dan Ibu Maria Kadarsih. Peserta sangat antusias mengikuti setiap paparan materi dari kedua pembicara. Terlebih lagi, kedua pembicara dan moderator mampu menghidupkan suasana dengan contoh-contoh nyata dan guyonan-guyonan segar.

Rama Mali sebagai pembicara khusus “spiritualitas lektor“ menekankan bahwa lektor hendaknya mempunyai semangat gembira dan bahagia. Mengapa? Karena, dapat berjumpa dengan Allah dan disapa oleh Allah. Di samping itu, Rama Mali juga membeberkan beberapa petunjuk praktis dan kriteria umum seorang lektor. Rama Mali mengingatkan para lektor untuk: (1) Berdoalah sebelum membaca Kitab Suci; (2) Pegang dan tatangkanlah Kitab suci dengan hormat; (3) Bacalah Kitab Suci sebelum membacakannya kepada umat; (4) Sikap hormat dan khidmat saat membacakan Kitab Suci; (5) Bacakanlah Kitab suci seolah-olah Anda sedang seperti nabi yang sedang berbicara kepada jemaat; (6) Yakinkanlah bahwa suaramu terdengar oleh orang lain; (7) Selesai membaca, berilah hormat kepada Kitab Suci; (8) Berjalanlah saat kembali ke kursi dengan sikap anggun dan hormat; (9) berpakaian yang pantas.

Ibu Maria Kadarsih menjelaskan dasar-dasar pemahaman bahasa Jawa dan hal-hal yang bersifat teknis dalam membaca tulisan berbahasa Jawa. Dalam paparannya, Ibu Maria Kadarsih sempat memberikan contoh membaca dengan meminta sukarelawan untuk membacakan suatu perikop kitab suci yang sudah dipersiapkan. Menjadi lektor berbahasa Jawa memang untuk zaman sekarang, terlebih generasi milenial, menjadi sebuah tantangan khusus. Ketidaktahuan dan kekurangmauan untuk belajar dan terus belajar menjadi kendala tersendiri, padahal bahasa Jawa di Indonesia hadir lebih dahulu dibandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dengan mau menjadi lektor berbahasa Jawa, kita secara tidak langsung turut serta nguri-uri kebudayaan Jawa.

Rama Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta (Rama Yohanes Ari Purnomo, Pr) berkenan menutup acara workshop singkat ini dengan menyerahkan kenang-kenangan untuk kedua pembicara. Acara penutup dilanjutkan oleh para peserta dengan berfoto bersama para pembicara.

 

*(Anton Prima Aryana)
Credit foto: Theresia Gayatri Septirini