CERITA KAMI

Nihil Obstat dan Imprimatur

09-09-2019 10:37

Pada setiap buku yang diterbitkan secara resmi selalu terdapat halaman copyright. Di halaman copyright termuat identitas buku, penerbit, penulis atau pihak-pihak lain yang terlibat, nomor ISBN, dan berbagai catatan penting lain berkaitan dengan buku tersebut. Halaman ini letaknya di bagian depan. Dalam sebuah buku urutannya: sampul depan, halaman judul, halaman copyright, baru Kata Pengantar, Daftar Isi dan seterusnya.

Ada sesuatu yang berbeda pada halaman copyright buku-buku terbitan PT Kanisius. Pada halaman copyright buku-buku keagamaan khususnya, terdapat catatan tentang Nihil Obstat dan Imprimatur. Lantas, apa maksudnya? Mengapa buku-buku tersebut diberi Nihil Obstat dan Imprimatur?

Nihil Obstat

Nihil Obstat adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti: tidak ada halangan. Nihil artinya “tidak ada”, sedangkan Obstat artinya “halangan, hambatan, atau batu sandungan”. Dengan catatan ini hendak dikatakan bahwa buku ini bersih dari berbagai hal/informasi yang dapat menjadi sandungan bagi pembacanya. Nihil Obstat diberikan oleh tokoh atau pejabat yang karena kredibilitas dan kompetensinya mendapat kewenangan untuk untuk memeriksa. Dalam Kanon 823-824 disebutkan bahwa tokoh atau pejabat yang berwenang memberikan Nihil Obstat ditunjuk oleh Uskup. Dalam konteks penerbitan buku, tokoh atau pejabat yang berwenang memberikan Nihil Obstat akan memeriksa naskah-naskah, gambar-gambar, dan berbagai materi yang nantinya akan dibaca, dipelajari, dan dijadikan acuan oleh Umat Katolik berkaitan dengan penghayatan dan pengembangan iman mereka. Hanya naskah-naskah, gambar-gambar, dan materi lain yang sesuai ajaran dan tradisi Gereja Katolik sajalah yang akan ditandai dengan Nihil Obstat. Dengan demikian tokoh atau pejabat yang ditunjuk oleh Uskup itu menyatakan bahwa buku dengan berbagai informasi di dalamnya layak dijadikan acuan oleh Umat Katolik dalam upaya menghayati dan mengmbangkan iman Katoliknya.

Imprimatur

Imprimatur adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti “silakan dicetak atau digandakan”. Imprimatur diberikan oleh pejabat Gereja, biasanya langsung Uskup atau Vikaris Jendral. Dengan memberikan Imprimatur otoritas Gereja setuju naskah, gambar-gambar, atau materi yang telah disiapkan itu dicetak dan disebarluaskan kepada Umat Katolik.

Mengapa perlu Nihil Obstat dan Imprimatur?

Magisterium, yang memiliki kewenangan untuk mengajar dalam Gereja Katolik, juga berkewajiban untuk melindungi umat terhadap kekeliruan: “…Wewenang Mengajar itu harus melindungi umat terhadap kekeliruan dan kelemahan iman dan menjamin baginya kemungkinan obyektif, untuk mengakui iman asli, bebas dari kekeliruan. Tugas pastoral Wewenang Mengajar ialah menjaga agar Umat Allah tetap bertahan dalam kebenaran yang membebaskan….” (bdk. Katekismus Gereja Katolik No. 890).

Dengan memberikan Nihil Obstat dan Imprimatur pejabat gereja sedang menjalankan tugas untuk melindungi umat dari kemungkinan tersesat akibat buku bacaan atau informasi-informasi lain yang diberikan kepada mereka.

Buku apa saja yang memerlukan Nihil Obstat dan Imprimatur?

Memang tidak semua buku yang diterbitkan perlu ditandai dengan Nihil Obstat dan Imprimatur. Namun Kitab Hukum Kanonik mencatat, sekurang-kurangnya kelompok buku-buku berikut perlu dijamin pejabat Gereja dengan Nihil Obstat dan Imprimatur:

  1. Buku-buku Kitab Suci (Kan. 825)
  2. Buku-buku Liturgi dan Doa (Kan. 826)
  3. Buku-buku Katekese (Kan. 827)
  4. Buku-buku Iman dan Moral (Kan. 827)

Bagaimana jika Nihil Obstat dan imprimatur tidak ditemukan?

Oleh karena itu, jika menggunakan buku-buku dalam kategori tersebut (1-4 di atas), yang tidak ditandai pernyataan Nihil Obstat dan Imprimatur, sebaiknya kita berhati-hati. Bisa jadi, sebagai katekis, pengajar, atau pemuka jemaat, kita justru menyesatkan umat dengan berbagai informasi atau ajaran yang keliru. Jika memang terpaksa, sebelum mempergunakannya lebih lanjut sebaiknya kita berkonsultasi dengan pihak-pihak yang sungguh-sungguh kredibel, kompeten, dan berwenang.


*Marcel-Editor Buku Gerejawi