DARI MEDIA

Bapakku Sulitnya Menyelami Dunia Batin dan pikiran Ayah Kandung Super Jaim

11-05-2019 11:09

Banyak anak mengalami kesulitan sangat serius dalam setiap upaya bisa berkomunikasi lancar dengan orangtuanya, terlebih dengan ayah kandungnya. Dan Romo Agustinus Setyodarmono SJ ini dengan sukahati rela berkisah tentang pengalamannya sebagai anak kandung –mulai sejak kecil hingga sampai dewasa dan bahkan saat sudah menjadi imam pun – yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan ayah kandungnya sendiri.Ini bukan soal sekunder, misalnya, Romo Setyodarmono SJ itu punya bapak tiri, sehingga komunikasinya itu jadi tidak pernah berlangsung sukses atau omongannya bisa langsung enak.

Dunia batin dan alam pikir beda Sama sekali itu bukan. Ini persoalan eksistensial yang mungkin saja banyak dialami oleh anak-anak kandung, ketika dunia batin dan alam pikirnya itu sungguh berbeda dengan “dunia pikiran dan kebatinan” sang ayah. Tentu, zaman ikut mempengaruhi mengapa komunikasi wawanhati itu tidak pernah kesampaian. Dan hal penting ini dengan bahasa gampang dan renyah bisa disampaikan secara sangat gamblang dalam buku anyar bertitel  Bapakkku. Kisah-kisah kehidupan riil berdasarkan pengalaman personal ini digarap dengan sangat apik oleh Romo Agustinus Setyodarmono SJ, Magister Novis SJ di Kolese St. Ignatius – Girisonta, Ungaran. Kalau kesulitan berkomunikasi yang tidak pernah <em>nyambung </em>antara anak dan ayah kandungya itu terjadi, maka di sini pertama-tama adalah persoalan beda generasi sehingga beda pula atmosfir kebatinan dan isi pikiran orang.

Produk zaman Era itu memang sungguh beda sekali dengan zaman. Belum lagi kalau harus bicara juga tentang posisi sosial orang di masyarakat ketika punya kedudukan struktural di lembaga pengamanan negara yakni menjadi tentara dan pengajar di Akademi Militer Magelang. Posisi dan jabatan juga menentukan sikap dan perangai orang. Dulu sekali, orangtua  produk zaman baheula memang suka tanpa sadar sering mengambil posisi “jaga jarak” dengan anak. Komunikasi dengan anak dan bahkan dengan isterinya pun itu hanya terjadi sejauh itu perlu, ketika orangtua atau sang suami merasa diri sekarang butuh harus diberi “info” Kalau tidak, orangtua atau suami itu lalu cenderung hanya diam, inginnya hanya mau menyaksikan “dari jauh”, dan kalau perlu hanya mau sekali omong, dan itu ya harus didengarkan dengan seksama dan dipatuhi. Sosok orangtua yang jaim barangkali istilah ini tepat.

Anak dari sononya sejak dulu sampai zaman punya keinginan untuk “berbagi rasa” dan berbagi kisah. Ini kecenderungan alami di mana anak bisa langsung merasa diri “saya benar-benar masih punya orangtua”. Itu saja bagus dibaca oleh para pembina dan pendidik supaya mereka jangan pernah menjadi jaim kepada yunior dan anak didiknya.

Terima kasih kepada Sesawi.Net dan Bapak Mathias Hariyadi atas pemuatan resensi berjudul Bapakku Sulitnya Menyelami Dunia Batin dan pikiran Ayah Kandung Super Jaim dari buku Bapakku. Dimuat 10 Mei 2019.