DARI MEDIA

Impian Gembala Dipeluk Santa

11-07-2019 10:17

Tak ada krisis imam. Tak ada krisis panggilan. Adanya krisis jawaban. Romo Mangun beperkara krisis dan dilema dalam novel ini. Gaung godaan kaum tertahbis, khususnya imam, selama ini baru bermuara dalam perkara wanita dan selilit uang. Bukan tahta dan karya.

Novel ini menjadi narasi terbaik untuk literasi (calon) biarawan atau biarawati dari sudut ikonik. Ada kelakar kritis dari banyak pelayanan imam kepada umat, “jangan suka memilih-milih imam jika umat tidak bisa melahirkan imam baru”. Bahkan, imam paroki atau uskup sering memberi tengara galak, “jangan suka menggodai imam”, ketika ada seremoni penyambutan imam baru di paroki. Mujarabkah seruan tersebut? “Tidak,” jawab Romo Mangun dengan beperkara dalam novel ini. Perkara justru muncul dari krisis kendali hasrat si imam yang bersangkutan. Romo Rahadi atau Didi adalah underannya. Titik tembak narasi dibelokkan Romo Mangun. Menghakimi asmara liyan ibarat mengkhianati hukum dasar cinta kasih. Di sinilah Didi beperkara.

Terima kasih kepada Majalah Hidup dan Saudara Anton Suparyanta, prodiakon Gereja St Ignatius Ketandan (GIK), Klaten atas pemuatan resensi berjudul Impian Gembala Dipeluk Santa dari Buku Romo Rahadi. Dimuat di edisi No. 27 tahun ke-73, 7 Juli 2019.