DARI MEDIA

Agar Tetap Bahagia di Usia Tua

12-08-2019 11:11

Peralihan dari ke masa lansia memiliki pengaruh yang sangat kuat. Ini disebabkan perubahan aktivitas yang awalnya rutin dan padat menjadi kosong. Juga disebabkan kesehatan fisik yang makin menurun. Perubahan itu semua sebenarnya sama sekali tidak diharapkan. Semua orang ingin memiliki fisik yang sehat dan juga lingkungan kerja yang memperhatikan dirinya. Namun, faktanya tidak demikian. Lansia itu pasti. Pensiun juga tidak bisa dielakkan.

Buku ini mencatat beberapa kisah orang yang menderita di masa lansia. Seorang ibu berumur 67 tahun, sejak dia pensiun, merasa teman-teman kerjanya tidak lagi memperhatikan dirinya. Saat berulang tahun, mereka hanya sebagian yang datang. Dia juga merasa tidak berguna sebab potensi dirinya tidak seoptimal dulu dan tak bisa diaktuliasasikan sepenuhnya. Baginya, pensiun adalah nasib buruk di mana tak ada lagi yang bisa dia kerjakan.

Pergolakan psikis ini membuatnya jadi pemarah. Anak dan cucunya sering dimarahi tanpa alasan yang jelas. Mereka juga kerepotan merawat dan memberikan pelayanan karena kepribadiannya sulit dipahami (hlm 11).

Ada pula lansia yang tidak menerima kenyatan dirinya tua.  Ini menyebabkan dirinya depresi. Tubuhnya mudah sakit. Dia mudah marah sehingga merusak keharmonisan dengan anak dan cucunya. Padahal mereka berharap ingin membahagiakannya. Puncaknya, dia berharap kematian segera menjemput dirinya. Ini semakin membuat anak dan cucunya resah.

Terima kasih kepada Mamluatul Bariroh Kepala Sekolah RA Nurul Huda Bluto atas pemuatan resensi Agar Tetap  Bahagia di Usia Tua dari buku Menjadi Orang Tua (Lansia) yang Bahagia. Dimuat Sabtu, 27 Juli 2019