DARI MEDIA

Kuasa Sakramen Perkawinan

15-08-2019 09:38

Perkawinan Katolik itu sakramen atau bukan yang menentukan adalah baptisan. Perkawinan bukanlah visioner prokreasi. Inilah biang katolisitas. Disebut sakramen jika dua orang menikah dalam kondisi sama-sama sudah dibaptis sah menurut gereja Katolik, entah baptis di gereja Kristen atau di gereja Katolik. Disebut tidak sakramen jika salah satu atau kedua dari pasangan yang menikah tidak dibaptis.
Kriteria perkawinan Katolik mensyaratkan sekurang-kurangnya satu di antara keduanya harus sudah dibaptis Katolik. Pahami juga perkawinan beda agama. Perkawinan seperti ini pun sah jika diselenggarakan di gereja Katolik meskipun tidak disebut sakramen.
Apakah otomatis perkawinan sakramen itu suci? Kesucian bisa diyakini, tetapi perlu menunjuk unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi. Dijelaskan Yohanes S Lon, perkawinan Katolik harus valid dan licit.
Validitas (sah) perkawinan ditentukan tiga hal: materia sacramenti (si laki-laki dan perempuan tidak terkena halangan nikah), forma sacramenti (kesepakatan nikah yang benar: bebas sungguh-sungguh dan penuh), dan forma canonica (nikah di hadapan pastor dan dua orang saksi).
Terima kasih kepada Majalah Hidup dan Saudara Antonius Suparyanta atas pemuatan resensi berjudul Kuasa Sakramen Perkawinan dari Buku Hukum  Perkawinan  Sakramental dalam Gereja Katolik. Dimuat Minggu, 28 Juli 2019.