DARI MEDIA

Wasiat Buddha dan Kalijaga untuk Lansia

14-11-2019 11:22

Anda siap menyandang julukan adiyuswa, menjadi lansia? WHO memerincinya empat fase: lansia pertengahan (45-59), lansia (60-74), lansia tua (75-90), dan lansia sangat tua (di atas 90). Depkes RI (2009) membagi lansia awal (46-55), lansia akhir (56-65), dan manula (66 ke atas). Undang-Undang No 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan  lansia yang jompo dibatasi 56 tahun ke atas.

Buku ini tergolong ide segar, yakni menuntun diri seseorang yang dikaruniai hidup hingga adiyuswa atau lansia, seyogianya menjalani karakter epifani, penuh syukur, bahagia, bijaksana, dan olah spiritual. Hidup lansia dijalani dengan kegiatan menyenangkan. Jika abai, terseranglah penyakit degeneratif demensia yang menjurus alzheimer. Persentase demensia menajam mengikuti laju usia: 1,4% (65-69), 2,8% (70-74), 5,6% (75-79), dan 23,6% (85 ke atas). Maka pertahankan kualitas hidup dengan aktivitas ceria. Gejala awal demensia akan menjadi akut jika tak segera ditangani, misalnya pelupa, pikun, berbicara selalu berulang, dan perilaku kekanak-kanakan. Tak disangkal, lansia pasti mengalami kemerosotan intelektual.

Paul Subiyanto terinspirasi riset terhadap ayahnya Fs Marto Sugiyo yang berusia senja 90. Tidak gampang menjadi lansia terutama bergumul dengan diri sendiri. Lansia butuh pendampingan khususnya yang terbatas mobilitasnya pada kegiatan sosial, keagamaan, dan jauh dari famili (hlm 3).

Terima kasih kepada Jawa Pos Radar Madura dan Saudara Antonius Suparyanta atas pemuatan resensi Wasiat Buddha dan Kalijaga untuk Lansia dari buku Senja nan Indah, Menjadi Lansia Bahagia dan Bijaksana. Dimuat, Senin, 9 September 2019.