DARI MEDIA

Pentingnya Kreatifitas dan Keterbukaan di Era Kultur Digital

06-12-2019 09:15

Isu “budaya” semakin marak dibicarakan karena menjadi kata kunci pokok dalam memahami interaksi manusia di dunia global. Namun menurut Bambang Sugiharto di buku ini, isu “budaya” mengandung banyak dilema. Menurutnya, di satu sisi isu budaya dianggap isu sentral, tapi di sisi lain pengertian konsep “kebudayaan” sudah menjadi sangat kabur. Bambang melihat sistem kebudayaan itu sendiri memang telah berubah. Dahulu budaya bisa dibayangkan melalui berbagai penelitian antropologi, seolah kebudayaan itu sistem tertutup dengan keunikan dan esensi khasnya.

Kini, di tengah perkembangan pesat teknologi dan digitalisasi penyebaran informasi, kebudayaan mengalami perubahan mendasar dalam karakter, penghayatan, maupun pemaknaan. Sekarang nilai-nilai dan cara hidup dari sistem budaya mana pun bersirkulasi dengan sangat bebas, luas, dan tak terbendung. Sistem budaya menjadi sangat terbuka, saling berinteraksi, dan saling memengaruhi. Dalam kondisi tersebutu, penulis melihat tradisi bukan satu-satunya pilar atau pusat gravitasi nilai yang paling menentukan. “Kita dapat menyebut zaman ini: era post-tradisi,” kata Bambang Sugiharto (hlm 14).

Di buku ini, Bambang mengkaji berbagai konsekuensi dari hiruk-pikuk perubahan kultural tersebut. Revolusi komunikasi  membuka kemungkinan bagi setiap kebudayaan untuk tampil. Dunia menjadi panggung raksasa bagi beragam gelombang budaya yang saling memengaruhi. Dalam interaksi tersebut, otomatis terjadi kritik-diri timbal balik. Setiap kebudayaan akan dikagumi sekaligus dikritik budaya lainnya, sehingga masing-masing akan membongkar dan merajut ulang kerangka konseptual-tradisionalnya (hlm 105).

Terima kasih kepada Koran Jakarta dan Saudara Al-Mahfud atas pemuatan resensi berjudul Pentingnya Kreatifitas dan Keterbukaan di Era Kultur Digital dari buku Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi. Dimuat Selasa, 29 Oktober 2019.