CERITA KAMI

Menangkal Hoax dengan Berpikir Kritis

16-10-2018 10:30

Hidup di era digital di mana informasi diproduksi dan menyebar dengan cepat membuat setiap orang harus mampu berpikir kritis. Jika tidak, orang akan mudah terjerumus dalam jurang prasangka, kecurigaan, dan kebencian karena maraknya penyebaran kabar-kabar palsu (hoax). Hal ini gampang kita temui beberapa tahun belakangan di media sosial, terutama di tengah persaingan politik yang memanas. Di tengah fenomena tersebut, buku terbaru karya Kasdin Sihotang ini menjadi sangat relavan dibaca.

Buku ini mengulas berbagai hal seputar kecakapan berpikir kritis. Mulai dari hambatan berpikir kritis, keutamaan berpikir kritis, level dan elemen berpikir kritis, standar intelektual berpikir kritis, dan sebagainya. Di awal, penulis menyuguhkan berbagai hal yang bisa menghambat pemikiran kritis. Di antaranya berpikir egosentrisme, berpikir relativitas, berpikir sesuai keinginan belaka (wishful thinking), hingga mengagung-agungkan teknologi.

Wishful thinking adalah salah satu penghambat orang berpikir kritis. Secara psikologis, Wishful thinking adalah pola pikir yang menegaskan sesuatu sebagai benar karena hasrat atau keinginan (wish) bahwa sesuatu itu benar. Pola pikir ini dapat dirumuskan secara sederhana: saya ingin X benar. Jadi, X benar. Dalam pola pikir tersebut, kejernihan berpikir dan objektivitas dinafikan.

Di media sosial, orang dengan pola pikir seperti ini mudah menyebarkan berita-berita hoax atau isu-isu provokatif. Tanpa peduli kebenarannya, asalnya suatu isu menguntungkan dan mendukung apa yang diyakininya, ia akan menyebarkannya secara luas. Di sinilah terlihat bagaimana berpikir wishful thinking akan menghambat seseorang untuk berpikir kritis. Sebab, pola pikir tersebut mengesampingkan rasionalitas, objektivitas, dan kejernihan berpikir.

Terima kasih kepada Tribun Jateng dan Saudara Al-Mahfud atas pemuatan resensi Menangkal Hoax dengan Berpikir Kritis dari buku Berpikir Kritis; Kecakapan Hidup di Era Digital dimuat Minggu, 14 Oktober 2018.