CERITA KAMI

Era Teknofil Bongkar Satire Guru dan Siswa

15-01-2019 13:12

Tetap waras di era teknofil. Inilah moto berpikir kritis dan edukatif saat ini. Iptek tidak menjanjikan kesejahteraan dan intensitas komunikasi, tetapi memicu perubahan pola pikir. Masa lampau tradisional menyisakan prinsip rutinitas, otomatis, dan prosedural yang menggiring ke titik zona nyaman. Era terkini serbadigital memaksa secara radikal agar kita memiliki cara pikir kompleks, adaptif, dan peka pada beda pandangan.

Titik balik mutu hidup terjadi saat ini. Cirinya teknofil dan pribadi phubbing mengamuk. Semua kebutuhan adab mejadi kebal. Peranti hidup yang diagungkan mentok materi. Imbasnya, tak elak, modal hidup setiap insan harus cakap di dalamnya. Modal itu tiada lain daya berpikir kritis. Belajar waras dari kepungan pikir yang tidak waras.

Berpikir kritis menjadi kekuatan dan kebutuhan baru. Kemampuan ini justru menjadi tuntutan kecakapan hidup yang mendesak ditumbuhkembangkan. Fungsinya untuk filter berbagai informasi dan memilih yang terbaik sesuai dengan hakikat kemanusiaan.

 

Buku Kasdin Sihotang ini membongkar satire guru dan siswa. Mereka kaum intelek yang intelektual. Pelahir golongan terdidik-terpelajar, cerdas-cendekia. Tetapi logika dan etiket hidupnya abai, tidak mendayakan kecakapan kodratiah (homo est animal rationale—Aristoteles) secara maksimal. Terjadi karut-marut benturan berpikir kritis dengan keutamaan hidup. Gejalanya mereka tenggelam dalam selubung hidup (nafsu, ambisi, profesi, harta, kepentingan personal dan kelompok, serta motif-motif di luar nalar.

Terima kasih kepada harian Jawa Pos Radar Madura dan Saudara Anton Suparyanta atas pemuatan resensi di halaman Pendidikan, rubrik Resensi Buku dengan judul “Era Teknofil Bongkar Satire Guru dan Siswa”. Dari buku Berpikir Kritis Kecakapan Hidup di Era Digital dimuat  Rabu, 9 Januari 2019