CERITA KAMI

97 Tahun Penerbit-Percetakan Kanisius

11-02-2019 13:33

26 Januari 2019 Penerbit-Percetakan tertua di Indonesia ini merayakan ulang tahunnya yang ke-97. Sekaligus, tahun ini adalah ulang tahunnya yang ke-5 sebagai Perseroan Terbatas.

Tidak seperti biasa, pagi itu jalan masuk dari pintu utama ke selatan dinaungi tenda, dan berujung sebuah panggung berkarpet merah. Para karyawan berbatik rapi dengan wajah ceria berjalan naik ke lantai II menuju Ruang Kepodang. Di tempat inilah puncak acara HUT  diadakan. Dalam rangkaian acara sebelumnya, diadakan aksi donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar; Franklin story telling dan kegiatan literasi untuk anak-anak sekitar; kenduri syukur bersama para tetangga; selain juga acara yang bersifat internal seperti fun games karyawan, dan refleksi karya pada malam vigili.

Tepat pada pukul 08.10 acara dimulai. Apa yang lebih tepat sebagai  wujud perayaan ulang tahun selain syukur? Sebagai lembaga Katolik, syukur ini diungkapkan dengan Perayaan Ekaristi meriah. Perayaan dipimpin langsung oleh Vicaris Episcopalis DIY Reverendus Domnus Adrianus Maradiyo, Pr sebagai Selebrans Utama, didampingi Konselebrans  Reverendus Pater E. Azismardopo Subroto, SJ; Reverendus Pater V. Istanto Pramuja, SJ; dan Reverendus Domnus Rosarius Sapto Nugroho, Pr. Dalam homilinya, Romo Maradiyo mengingatkan tantangan yang harus dihadapi pada era digital sekarang ini. Teknologi berkembang pesat, akses informasi bisa dilakukan cepat. Bekerja keras tanpa salah seperti telah dilakukan selama ini bisa jadi tidaklah cukup. Insan Kanisius diingatkan agar selalu beradaptasi menyesuaikan perkembangan dengan cepat pula, dan bekerja secara kreatif. Ini salah satu kiat yang akan mampu mengantarkan Kanisius sampai pada ulang tahun satu abad pada tahun 2022 mendatang. Kalau terlena dan tidak waspada, bukan tidak mungkin bakal gulung tikar sebelum sampai usia seratus tahun.

Pada akhir Perayaan Ekaristi, dilakukan pemotongan tumpeng nasi kuning, bukan kue tar. Kanisius mau berpijak pada tradisi dan kearifan lokal. Filosofi tumpeng yang mengerucut keatas, menjadi fokus pengabdian yang terarah pada Gusti Allah, dan melebar ke bawah agar menyalurkan rahmat Allah kepada sesama. Mengemban karya seluhur itu Kanisius perlu mengajak bersinergi sebagai wujud bakti bagi negeri tempat berbagi rahmat, sebagaimana bunyi slogannya menyongsong usia satu abad: Sinergi Bakti untuk Negeri. Potongan tumpeng diserahkan pemegang saham mayoritas kepada karyawan tertua sebagai ungkapan terima kasih,  dan kepada karyawan termuda sebagai ungkapan harapan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Pada acara-acara selanjutnya dilakukan pula penghargaan kepada karyawan yang telah mengabdi selama 25 tahun dan 30 tahun. Tak ketinggalan, dilakukan pula acara pelepasan bagi purnakaryawan. Acara perayaan tahun ini memang sederhana namun terasa hangat. Kedua MC muda berbakat David W. dan Vivi, mampu menggulirkan acara dengan segar dan lancar. Sumbangan tarian dan lagu dari SD N Deresan sangat mengesan, menunjukkan hubungan bertetangga yang baik. Kehumasan Kanisius memang terus dibenahi agar makin mampu menyapa orang terdekat jangan sampai terlewat. Tak kalah menarik dan ditunggu-tunggu adalah pembagian doorprize.  Selain dari Kanisuis sendiri, para mitra pun berkenan mendukung pemberian doorprize: PT Sansin Indonesia, BPR Shinta Daya, CV Hasta Yuga Halim, Heidelberg, Trans Cargo, UD Sregep, dan Bank BNI. Diucapkan terima kasih untuk para mitra yang telah berpartisipasi.

Acara diakhiri tengah hari dengan santap siang bersama di bawah tenda atau pun di Ruang Terbuka Hijau Kanisuis yang rindang sambil mendengarkan sajian musik panggung. Terasa membumi, makan dengan sajian melimpah diiringi musik dangdut dengan penyanyi seksi. Sekali lagi, ini wujud nyata Kanisius makin membumi. Terbukti banyak karyawan, staf maupun pejabat struktural turun bergoyang. Lupakan sebentar musik Jazz, apalagi Gregorian.

 

(warindra)