CERITA KAMI

Menjaga Kemurnian Bahasa Indonesia

11-02-2019 10:47

“Kami putra-putri Indonesia
menjunjung tinggi bahasa persatuan,
bahasa Indonesia”

Ini merupakan salah satu butir Sumpah Pemuda yang diucapkan para pemuda dari berbagai daerah di Tanah Air pada tahun 1928, yang kemudian menjadi tonggak sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dari kalimat tersebut, tergambar jelas adanya tekat untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan.

Di buku ini, dipaparkan bahwa dalam kedudukananya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Artinya, di samping sebagai lambang dan identitas kebanggaan bangsa, bahasa Indonesia juga berfungsi sebagai bahasa perantara (lingua franca) untuk keperluan berkomunikasi antarsuku bangsa.

Namun dalam kehidupan sehari-hari penggunaan atau pemakaian bahasa Indonesia mengalami berbagai perbedaan atau tidak sama dengan bahasa Indonesia yang sebenarnya seperti dalam buku pelajaran. Pemakaian bahasa Indonesia oleh masyarakat sangatlah luas, dari Sabang sampai Merauke, dan cenderung dipengaruhi oleh bahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah memang penting juga untuk tetap dilestarikan, namun kerap kali dalam praktiknya memengaruhi berbagai kosa kata bahasa Indonesia.

Terima kasih kepada Radar Madura dan Saudara Al-Mahfud atas pemuatan resensi Menjaga Kemurnian Bahasa Indonesia dari Buku Pembinaan Bahasa Indonesia dimuat Selasa, 5 Februari 2019.