CERITA KAMI

Religiusitas, Spritualitas, dan Hibriditas

21-02-2019 09:49

Reformasi Marthin Luther sekitar 500 tahun silam telah menjadi gerakan yang melahirkan perpecahan kekristenan dari denominasi Katolik Roma pada waktu itu. Kejadian tersebut bagi J. B Banawiratma melalui tulisan pengantarnya dalam buku ini menjadi perpecahan terbesar sepanjang sejarah Gereja. Oleh karena itu, sebagai salah satu respon terhadap kejadian yang terus berdampak sampai sekarang. Para penulis menggali kekayaan spiritualitas yang terbangun oleh berbagai denominasi Kristen yang telah ada dan lahir seusai reformasi, dengan berpusat pada sebuah pertanyaan pokok “Pertanyaan yang menjadi titik awal buku ini ialah apa makna kejadian tersebut untuk diperingati oleh warga Indonesia, yang juga hidup dalam dampak reformasi tersebut? (hal 10)


Pertama-tama, peristiwa reformasi dalam pandangan Banawiratma melalui tulisan pembukanya (hal. 9-21), mesti dilihat dari sisi apresitatif, yakni mengakui dan mensyukuri keberagaman yang lahir dari kejadian tersebut. Tentu melalui reformasi, kita bisa memiliki banyak tradisi yang kaya akan sisi spiritualitas (hal. 11).  Namun, Banawiratma sebagai salah satu editor buku ini memaparkan 3 alasan mengapa diskusi spiritualitas mesti dibangun Gereja untuk menjaga keharmonisan kehidupan bergereja. Nila-nilai yang mesti dipegang teguh oleh gereja yakni spritualitas, religiusitas, dan identitas (hibrid).

Terima kasih kepada Berita Oikoumene Persatuan Gereja di Indonesia (PGI) dan Saudara Jear Niklas Doming Karniatu atas pemuatan resensi berjudul  Religiusitas, Spritualitas, dan Hibriditas dari buku Spiritualitas dari Berbagai Tradisi dimuat di edisi Januari 2019