CERITA KAMI

Nenek-Nenekpun Masih Membaca

08-03-2019 14:49

Minggu, 27 Januari 2019 pukul 09.00 pagi. Umat yang mengikuti misa mingguan di Gereja Santo Petrus & Paulus Babadan baru saja bubar. Namun rombongan ibu-ibu sepuh yang tidak semuanya saling kenal mulai berdatangan. Dalam tempo kurang dari sejam, gereja yang sudah kosong kembali dipenuhi umat yang siap beribadat. Semuanya adalah ibu-ibu yang sebagian besar berusia lanjut. Hari itu Paguyuban Warakawuri se-Keuskupan Agung Semarang mengadakan pertemuan di Gereja Babadan. Jumlahnya ratusan, mendekati seribu orang. Hampir semua paroki di Keuskupan Agung Semarang mengirimkan perwakilannya. Selain pengurus di tingkat paroki, kevikepan, dan keuskupan, hadir pula pengurus Warakawuri dari Jakarta.

Menjelang pukul 10.00 WIB, sebuah mobil putih memasuki area halaman gereja yang sudah dikososngkan. Bapak Uskup tiba di tempat. Kehadirannya segera menarik perhatian ibu-ibu yang langsung berkerumun di sekitar beliau.

Acara khas ibu-ibu ini pun dibuka dengan seremonial sederhana pada pukul 10.00 WIB, dan langsung dilanjutkan dengan misa yang dipimpin Bapak Uskup. Banyak pesan diberikan Bapak Uskup untuk meneguhkan ibu-ibu yang hampir seluruhnya sudah menjanda ini. Banyak kesaksian diberikan oleh ibu-ibu menanggapi pertanyaan Bapak Uskup tentang cara menerima dan mensyukuri hidup sebagai janda. Namun hal cukup menarik dan tak terduga justru tampak sesusai misa, menjelang ibu-ibu berwawanhati dengan Bapak Uskup.

Waktu itu Pak Joyo Supeno bermaksud mengisi waktu jeda dengan membagikan doorprize. Sejumlah buku Kanisius sudah disiapkan untuk menjajagi minat baca kelompok ibu-ibu sepuh ini. Namun tiba-tiba Bapak Uskup mengambil alih peran Pak Joyo. Bapak Uskup pun mulai membagikan doorprize yang tersedia. Dan tak disangka-sangka, para ibu yang umumnya sudah nenek-nenek itu sangat antusias untuk mendapatkannya. “Siapa yang umurnya di atas 90 tahun?” tanya Bapak Uskup sambil mengangkat buku tentang beliau. Sebagian ibu-ibu tunjuk jari, tapi sebagian yang lain bahkan lupa umurnya sendiri. Menanggapi antusiasme hampir 1000 orang Ibu Warakawuri itu, Vikep Kategorial KAS (Romo Dwi Harsanto, Pr.) ikut membantu membagikan doorprize. Cukup mengharukan melihat ibu-ibu itu menerima buku sambil tertawa riang, bahkan menitikkan air mata.

Ternyata ibu-ibu lansia pun masih antusias untuk membaca. Bagi mereka, buku adalah salah satu media yang mampu meneguhkan di hari tua. Menurut mereka, buku bisa menjadi teman dalam kesendirian.

*(Chris Subagya)