CERITA KAMI

Sarasehan dan Launching Buku Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI

16-04-2019 10:17

Sabtu, 16 Maret 2019 Aula Lt. 2 Paroki St. Theresia (Menteng-Jakarta Pusat) Jalan Gereja Theresia No. 2, Jakarta Pusat ramai oleh para peserta Sarasehan dan Launching Buku Umat Katolik Dipanggil Membangun NKRI. Acara ini terselenggara atas kerjasama Penerbit PT KANISIUS bersama WKRI Cabang Santa Theresia Pustaka Santa Theresia. Buku ini adalah karya Bapak Yulius Kardinal Darmaatmadja, SJ yang juga turut hadir sebagai pembicara didampingi oleh Romo Al. Andang Binawan, SJ, dengan moderator Bapak Thomas Suwarta.

Sangat menarik memperbincangkan apa yang menjadi buah pemikiran dan renungan Bapak Kardinal melalui buku yang ditulis beliau. Tepat waktunya bagi umat Katolik sebagai bagian dari entitas bangsa ikut merefleksikan bagaimana mereka dapat berperan di waktu saat ini menjelang diselenggarakannya pesta demokrasi pemilihan presiden dan anggota legislatif. Kita sadari saat ini situasi kita berbangsa semakin terbelah dalam kelompok-kelompok dengan perbedaan pandangan dan ideologi yang semakin menajam. Dalam pandangan Bapak Kardinal, Indonesia beruntung karena memiliki Pancasila dengan nilai – nilainya yang tidak sekedar saling melengkapi, melainkan sinergis satu sama lain.

Dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Katolik diminta untuk membangun peradaban kasih, misalnya dengan membangun sikap tidak menaruh dendam terhadap sesama yang perbuatannya merugikan kita. Dalam buku ini, dicontohkan dengan adanya peristiwa pengeboman gereja di Surabaya. Pada waktu itu, Gereja Katolik menyatakan prihatin dengan terjadinya peristiwa itu dan pada saat yang sama memaafkan terhadap pelaku pengeboman. Umat Katolik diingatkan akan keutamaan sikap iman yang harus terus dihidupi.

Kita disadarkan bahwa kesepakatan para Bapak Bangsa untuk mejadikan Pancasila sebagai dasar negara merupakan keputusan yang sudah final dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosio kultural bangsa yang heterogen. Menjadi catatan sejarah bahwa sebagian kelompok atau warga pernah bercita-cita menjadikan ideologi selain Pancasila sebagai dasar negara. Sebut saja, ada yang ingin menjadikan komunis sebagai dasar negara atau berdasar agama tertentu. 

Bung Karno, memimpin para Bapak bangsa yang lain bahkan dengan menggali sendiri dari budaya yang sudah ada nilai-nilai yang dianggap luhur dan sesuai dengan kultur Indonesia sebagai bahan membangun fondasi Bangsa yang kemudian diberi nama Pancasila.

Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa Pancasila yang menjadi dasar negara kita, lahir karena Karsa Ilahi, melalui buah pikiran para Bapak Bangsa. Seyogyanya, sebagai umat Katolik kita dipanggil untuk mengamalkan dalam sendi kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, dari pemikiran tersebut kita diajak belajar dalam cakrawala yang lebih luas. Dengan mengamalkan Pancasila dalam praktek kehidupan keseharian sudah sama dengan melakukan praktek hidup sesuai tuntunan Injil. Sampai jumpa di sarasehan berikutnya. Read Good Book, Read Kanisius Books.

*Agata Vera