CERITA KAMI

Warisan Sokrates: “Pencerah Philo, Sophia, dan Liyan"

29-04-2019 11:02

Menjadi fasik jika memperkarakan buku ini. Menjadi bijak jika mau beperkara dengan buku ini. Cukup sodorkan pertanyaan “apakah” buku ini penting dan mengajak debatable untuk era milenial dengan sampiran 4.0. Ajakan memulai dengan “apakah” ini diwariskan oleh pesohor Sokrates. Sokrates mengajak menjadi insan bijak dan bajik selagi menampik watak fasik di dalam perkara berpikir atau bernalar waras.

Kejaran pola tanya “apakah” ini ternyata tetap selaras untuk sekadar melontar kritik atas aktualisasi siaran debat di tanah air menjelang pilpres 2019. Warisan pertanyaan “apakah” ala Sokrates bisa mengunci watak trianggolo fasik, bajik, dan bijak ketika beperkara. Apakah kejaran tanya “apakah” ini cukup bukti kontekstual untuk debat pilpres NKRI?

Pascadebat ca(wa)pres hingga debat para politisi dan intelek tanah air di media visual menyisakan satire perih. “Apakah mereka paham tentang ‘apakah’ cinta (philo), ‘apakah’ bijaksana (sophia), dan ‘apakah’ liyan (the others) dalam ilmu pengetahuan?” tanya mendiang filsuf Thales dan Sokrates. Berdebat adalah pengembaraan pikir berfilsafat. Berdebat dan berfilsafat ibarat bergegas mengentas diri dan segera keluar dari gua.

Buku ini menjadi pencerah. Mempelajari kelahiran filsafat di Yunani merupakan satu pintu terbaik untuk mencari sulur atas tudingan gelap dan blunder berpikir ilmiah. Terjawablah atas pertanyaan “apakah sejatinya filsafat itu?” Apakah debat menjadi cermin kejaran pikir berfilsafat?

Terima kasih kepada Kabar Madura dan Saudara Antonius Suparyanta atas pemuatan resensi Warisan Sokrates: “Pencerah Philo, Sophia, dan Liyan" dari Buku Sejarah Filsafat Yunani. Dimuat Kamis, 18 April 2019.