CERITA KAMI

AGAMA DAN KESADARAN KONTEMPORER

23-08-2019 14:16

Buku Agama dan Kesadaran Kontemporer ini bermula dari obrolan di antara para pengajar mata kuliah umum “Fenomenologi Agama” di Universitas Katolik Parahyangan tentang kebosanan yang mereka alami atas materi perkuliahan—yang sudah nyaris secara detail telah mereka hafal. Di pihak lain, kesadaran bahwa situasi kehidupan beragama yang makin segregasionis dan intoleran kini justru membutuhkan wacana keagamaan yang lebih umum, segar, dan universalis—seperti yang sebenarnya diidealkan oleh Fenomenologi Agama.


Di UNPAR, mahasiswa yang tidak beragama Katolik dipersilakan mengambil MKU Fenomenologi Agama, yaitu mata kuliah yang mengkaji agama sebagai fenomena manusiawi biasa dengan unsur-unsur umum yang serupa (puasa, kurban, pola ritual tertentu, dan sebagainya). Ini dimaksudkan agar mahasiswa menyadari bahwa tidak segala hal dalam agama itu murni “Ilahi” dan bersifat “mutlak”; bahwa mendiskusikan aspek-aspek manusiawi yang wajar dalam agama bukanlah tabu, bahkan justru sebenarnya penting dan perlu. Belakangan ini, para dosen mulai merasa bahwa bahan yang mereka ajarkan selama ini terlalu teknis dan abstrak. Bahan-bahan tersebut dirasa masih kurang menyentuh pengalaman konkret, serta mesti diperkaya dengan isu-isu penting dalam praksis beragama.


Oleh karena itu, dari obrolan para pengajar MKU Fenomenologi Agama UNPAR tersebut, muncullah gagasan untuk bersama-sama menulis buku referensi. Buku tersebut akan dipergunakan sebagai pelengkap bahan perkuliahan. Buku yang kemudian diberi judul Agama dan Kesadaran Kontemporer ini, membahas tentang berbagai isu krusial berkaitan dengan kehidupan beragama. Tulisan dalam buku ini tidak lagi sangat teknis fenomenologis, tetapi lebih reflektif, kritis, dan aktual. Proses penulisan buku ini berlangsung selama dua tahunan. Meskipun demikian, lamanya proses tampaknya setimpal dengan kualitas tulisan yang dihasilkan. Para penulis buku ini berharap agar buku ini dapat memberi sedikit angin segar bagi kehidupan beragama, yang pada awal milenium ketiga ini terasa demikian menyesakkan.

*Prasetya,  Redaksi Kependidikan-Umum