CERITA KAMI

Guru Katolik pada Era Digital

27-08-2019 08:22

Berangkat dari keprihatinan akan sebagian guru yang beranggapan bahwa profesi yang sedang mereka jalani hanyalah sebuah rutinitas dan tuntutan tugas semata, bahkan sebuah pekerjaan yang sering kali dirasa membosankan dan dilakukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, RD Fransiskus Emanuel da Santo atau yang akrab disapa Rama Festo berusaha menuangkan pandangannya sebagai seorang imam sekaligus pemerhati pendidikan di Indonesia melalui buku Guru Katolik: Antara Tugas dan Panggilan pada Era Digital. Berbagai hal yang beliau tuliskan dalam buku ini, sebagian sudah pernah ia bagikan saat mengisi berbagai rekoleksi untuk para guru yang beragama Katolik.

Mengapa Rama Festo mengambil tema ini? Mungkin sebagian dari kita yang berprofesi sebagai guru atau pendidik beranggapan bahwa apa yang sudah dilakukan selama ini sudah benar dan sesuai dengan tuntutan profesi sebagai seorang guru. Bahkan sebagian dari kita tidak pernah melihat bahwa profesi guru adalah sebuah panggilan dari Allah. Sebagai seorang imam sekaligus Sekretaris Komisi Katekese Konferensi Waligereja Indonesia, penulis merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk membuat umatnya yang berprofesi sebagai guru atau pendidik menyadari bahwa tugas yang mereka lakukan bukan hanya merupakan sebuah pekerjaan untuk mendapatkan uang. Lewat buku ini, beliau berupaya memaparkan alasan profesi guru atau pendidik dapat menjadi sebuah panggilan dan berusaha memberikan pemahaman tentang cara panggilan tersebut dijalankan. Selain itu, beliau juga memberikan pemahaman tentang alasan bahwa profesi ini adalah profesi yang sungguh membanggakan.

Mengapa memilih judul Guru Katolik: Antara Tugas dan Panggilan pada Era Digital? Jawabannya sangatlah sederhana, buku ini memang diperuntukkan para guru atau pendidik yang beragama Katolik. Melalui buku ini, Rama Festo ingin mengingatkan kembali tugas dan panggilan seorang guru dengan mengambil contoh Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Guru Utama. Bagaimana cara dan pola mengajar yang dilakukan-Nya? Apakah Ia menuntut dan mengeluhkan hal yang sama dengan para guru, khususnya yang beragama Katolik, saat ini? Bagaimana Yesus menghadapi dan menyikapi berbagai hal yang merintanginya saat mengajar? Berbagai dinamika tugas dan panggilan seorang guru Katolik dibahas secara mendetail dalam buku ini. Berbagai hal yang seharusnya dilakukan seorang guru atau pendidik Katolik guna menyikapi hal tersebut, disampaikan dengan apik dalam buku ini.

Pemilihan “era digital” dalam buku ini tentunya memiliki alasan. Saat ini, selain derasnya tuntutan dari orang tua siswa dan pihak sekolah yang makin tak terbendung, seorang guru atau pendidik memiliki tantangan lebih, yakni mampu menggunakan gawai sebagai penunjang proses belajar mengajarnya. Tidak jarang guru “zaman now” yang malah menyalahkan gawai atas hasil buruk yang dicapai siswanya. Mereka bahkan menganggap gawai sebagai momok yang menjadi penghalang dan sering kali mengacaukan proses belajar mengajar yang mereka lakukan. Padahal pada era digital ini, seorang guru dituntut untuk mampu mengelola dan menyampaikan informasi yang sangat berlimpah dari dunia maya, yang dapat dengan mudah diperoleh siswa dan dirinya, dengan seyogianya demi keberhasilan proses belajar mengajar dan kemajuan siswanya. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih nyata bagi para guru dan pendidik yang mengajar pada era digital ini, yang dengan imannya sebagai seorang Katolik, dapat lebih siap dan mampu menjalankan tugas dan panggilannya dengan baik.


*
Uji Prastya — editor