CERITA KAMI

Ilham Gembala Panutan

17-01-2020 13:54

Bersungut-sungut bukanlah cara teristimewa berkomunikasi dengan Sang Khalik. Abad ini menuntun bertekunlah dalam doa. Unggulkan kuasa doa. Untailah energi doa yang berjejak inspiratif, yang memohon, meminta, membujuk, memuji, hingga bersyukur dan berterima kasih. Tujuan visionernya menginginkan sukacita, damai dan tenteram, keselamatan hidup yang menyurga dan membumi.

Buku ini menyangkal idealisme hidup manusia terkini. Pengilhamnya Jorge Mario Bergoglio kelahiran Buenos Aires, Argentina, 17 Desember 1936. Ia dikukuhkan menjadi Paus ke-266 pada hari kedua Konklaf Kepausan, 13 Maret 2013 (hlm 3).

Paus menilai selama ini kita fasih bagaimana berdoa ketika ingin meminta sesuatu yang otomatis disambung ucapan terima kasih kepada Tuhan. Tampak sepele doa meminta dan berterima kasih. Cara ini disangkal dengan alasan kita tidak terbiasa memuji Tuhan. Sebuah doa pujian terasa memberat dan sulit bagi kita.

“Sesungguhnya kita bisa melakukannya lebih baik dengan mengingat semua hal yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita. Sangat mudah berdoa memohon rahmat. Jauh lebih sulit berdoa dalam pujian kepada Tuhan. Padahal inilah doa sukacita sejati,” kata Paus Fransiskus dalam homili pada ekaristi harian Kamis pagi, 16 Oktober 2014, di Casa Santa Marta, Vatikan (hlm 4).

Justinus Juadi, FIC reaktif dan pengidola Paus. Kisah-kisah inspiratif tentang Paus dan dinamikanya dikulik tandas. Ia berupaya memburu, mencari, dan mencermati setiap homili, khotbah, dan pesan-pesan Paus Fransiskus. Berpangkal inilah ia mengkreasi teks-teks doa yang selaras, harmoni dengan pernyataan Paus. Sisi kreativitas andalnya bahwa buku untaian doa ini tidak frontal sukacita memuji, tetapi diramu gradasi dengan nuansa memohon.

Terima kasih kepada Majalah UTUSAN dan Saudara Antonius Suparyanta atas pemuatan resensi Ilham Gembala Panutan dari buku Untaian Doa dari Inspirasi Paus Fransiskus. Dimuat edisi di Januari 2020.