CERITA KAMI

Sarasehan Pendidikan & Launching Buku Pengembangan Kurikulum dan Implementasi Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar

05-03-2020 15:15

Pada tanggal 27 Februari 2020, Civitas Akademika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, terlebih program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), berkumpul untuk mengikuti acara yang sangat monumental. Pada tanggal tersebut dilaksanakan Sarasehan Pendidikan dan Launching Buku “Kemerdekaan Belajar Di Sekolah Dasar”. Dalam acara ini Prof. Dr. C. Asri Budiningsih, M. Pd., Dinar Westri Andini, M. Pd., Ayu Rahayu, M.Pd., dihadirkan sebagai pembicara. Acara ini juga dihadiri oleh kepala ULD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Wakil Rektor 1, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, para kepala sekolah dan perwakilan sekolah mitra dan para mahasiswa.

Acara diawali dengan sambutan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Dra. C. Indah Nartani, M.Pd.), dilanjutkan dengan sambutan dari PT Kanisius yang disampaikan oleh Sdr. Emanuel Ristantya Erdian sekaligus melaunching buku “Pengembangan Kurikulum dan Implementasi Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar”. Sebagai bentuk simbolisasi, buku diserahkan kepada Wakil Rektor 1 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (Dr. Imam Ghozali) untuk selanjutnya menyampaikan sambutan mewakili Rektor UST yang berhalangan hadir.

Dalam sesi sarasehan, Prof. Dr. C. Asri Budiningsih, M. Pd. memaparkan hal tentang pembelajaran yang memerdekakan. Dipaparkan pula mengenai kecakapan yang harus dipunyai oleh para guru di abad ke-21 ini dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan pada abad ini. Beliau juga menyampaikan situasi pembelajaran yang masih terjadi selama ini di mana pembelajaran memberikan akibat yang kurang memerdekakan untuk anak didik. Maka, dalam proses pendidikan yang memerdekakan ini, guru mempunyai peran yang sangat penting. Guru hendaknya mempunyai kompetensi pedagogik yang meliputi:

  1. Menguasai karakteristik peserta didik.
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
  3. Mengembangkan kurikulum.
  4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik.
  5. Pengembangan potensi peserta didik.
  6. Komunikasi dengan peserta didik.
  7. Penilaian dan evaluasi.

Dalam pendidikan yang memerdekakan ini, hendaknya terjadi perubahan paradigma pada diri para guru. Menurut Prof. Asri Budiningsih, “Pergeseran paradingma yang hendaknya terjadi adalah: perubahan makna mengajar sebagai pemberikan stimulus sebanyak mungkin atau proses menyampaikan materi ke proses mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi peserta didik.” Dengan demikian, para guru hendaknya juga memahami perbedaan gaya belajar peserta didik yang terbagi dalam tiga macam, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.

Potensi individu siswa akan berkembang secara optimal dalam suasana belajar yang merdeka. Lebih lanjut, Prof. Asri Budiningsih menjelaskan bahwa dalam proses yang seperti itu akan terjadi pengakuan terhadap siswa sesuai harkatnya, menghargai kemampuan dan karakteriktik individu siswa, tidak ada paksaan, saling menerima, tidak represif dan rasis, ada kebebasan untuk memilih, tidak diskriminatif, ada keadilan dan tanggung jawab, menghargai ide orang lain, dapat hidup bersama dalam perbedaan dan siswa aktif dalam perkembangan/ pengambilan keputusan. Maka di sini peran guru menjadi sangat penting. Prof. Asri Budiningsih, memberikan pesannya bahwa para guru menjadi fasilitator, motivator, inspirator, kreator, dan inovator yang disiplin, jujur, kerja keras. Lingkungan yang kondusif untuk siswa belajar secara bebas juga harus ada. RPP tidak kaku, tugas-tugas yang membebani dan penjelasan detail, menilai, mengkritik, ujian tidak diberikan kecuali peserta didik memintanya. Pesan lainnya adalah agar guru mentransformasikan diri dengan membekali diri dari berbagai sumber belajar.

Di akhir paparan, Prof. Asri Budiningsih, menyampaikan tentang pembelajaran yang memerdekakan, yaitu dalam beberapa poin berikut:

  1. Berikan kebebasan untuk memilih kegiatan belajar yang sesuai minatnya.
  2. Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari.
  3. Dorong munculnya berpikir divergen.
  4. Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/ aktivitas.
  5. Tekankan pada keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
  6. Gunakan informasi pada situasi baru.
  7. Berikan kondisi, fasilitas, dan pendampingan.

Sesi kedua adalah paparan dari Dinar Westri Andini. Beliau memaparkan hal-hal terkait dengan adaptasi kurikulum dan perangkat pembelajaran bagi guru di sekolah dasar di mana sekolah sudah menyelenggarakan pembelajaran inklusif di sekolahnya. Pesan dari Dinar Westri Andini, bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi setiap anak didik. Dalam proses pembelajaran, harus ada kesempatan bagi semua siswa untuk berbaur dan berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi itu tanpa memandang perbedaan yang ada sehingga para siswa akan mengenal adanya keberagaman yang ada di sekitar mereka. Dapat dikutipkan dari paparan Dinar Westri Andini, “Setiap anak unik, setiap anak istimewa dan setiap anak pasti bisa belajar”.

 

 

 

*Anton Prima & Ayun

*Kredit foto:
- Emanuel Ristantya Erdian

- Panitia Sarasehan Pendidikan dan Launching Buku “Kemerdekan Belajar Di Sekolah Dasar”