CERITA KAMI

Belajar dari Anjuran Apostolik “Gaudete et Exsultate–Bersukacita dan Bergembiralah” Seruan Apostolik Paus Fransiskus, 19 Maret 2018

05-03-2020 15:20

Cuaca sore yang mendung tanggal 4 Februari 2020 rupanya tidak menyurutkan antusiasme dan semangat para prodiakon Paroki St. Theresia, Jombor, Klaten. Saat itu para prodiakon berkumpul di Kapel St. Paulus Pedan, Klaten yang menjadi bagian wilayah Paroki St. Theresia, Jombor. Sekitar delapan puluh orang prodiakon datang dan memeriahkan suasana dengan gelak tawa antar mereka sore itu saat mereka menunggu giliran untuk menorehkan nama dan tanda tangan pada lembar presensi.

Sekitar pukul 18.00 WIB acara dimulai oleh Mas Yossy yang merupakan tim kerja bidang liturgi Paroki St. Theresia, Jombor, Klaten. Pertemuan kali ini diisi dengan paparan materi dari Rama FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr. Tema yang diambil adalah “Spiritualitas Prodiakon Paroki” - Belajar dari Anjuran Apostolik “Gaudete et Exsultate – Bersukacita dan Bergembiralah” Seruan Apostolik Paus Fransiskus, 19 Maret 2018. Materi dibawakan secara ringan dan menarik oleh Rama Kendar. Diawali dengan paparan tentang Gaudete et Exsultate, Rama Sukendar mengajak para prodiakon untuk mewujudkan sukacita dan kegembiraan bersama orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitar ini dimulai dari keluarga sebagai pribadi-pribadi yang sangat dekat dalam kehidupan keseharian para prodiakon. Setelah itu melebar ke masyarakat di sekitar rumah, lingkungan, tempat kerja, dan makin meluas lagi.

Kata ‘bahagia’ atau ‘terberkati’ menjadi sebuah sinonim dari kata ‘kudus’, karena kata tersebut mengungkapkan bahwa mereka yang setia kepada Allah dan menghidupi sabda-Nya, dengan pemberian diri mereka, mencapai kebahagiaan sejati,” demikian dijelaskan oleh Rama Sukendar. Selanjutnya beliau memaparkan lima ciri yang menggambarkan kekudusan di dunia saat ini yang tentunya harus dihidupi oleh para prodiakon paroki. Kekudusan itu mewujud dalam Ketekunan, Kesabaran dan Kelemahlembutan; Sukacita dan rasa humor; Keberanian dan Gairah dalam Parrhesia yakni Keberanian–suatu dorongan untuk mewartakan Injil dan meninggalkan suatu tanda di dunia ini; kekudusan diwujudkan dalam komunitas; dan dalam doa yang terus-menerus.

Dalam pertemuan ini, para prodiakon diingatkan kembali pada Spiritualitas Hidup Prodiakon yang dijelaskan secara gamblang dalam buku Kompendium tentang Prodiakon, karangan Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, yang diterbitkan oleh PT Kanisius pada tahun 2017. Spiritualitas hidup prodiakon, oleh Rama Sukendar semakin digamblangkan dalam beberapa hal berikut, disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini.

Prodiakon hendaknya makin berelasi secara mendalam dengan Yesus Kristus dan mengambil bagian dari imamat Yesus Kristus. Lebih nyata lagi, hendaknya menjadi seperti orang Samaria yang menolong sesamanya. Prodiakon hendaknya semakin menyadari perkembangan dunia yang sedang terjadi, peka pada tanda-tanda zaman; semakin menyadari pula adanya pergeseran pola asuh dalam keluarga. Prodiakon hendaknya mempunyai kemauan untuk memberikan sumbangan rohani berupa penilaian hal yang sudah baik dari pasangan/sahabat dan apa yang dapat dikembangkan lebih lanjut (appreciative inquiry: Discovery, Dream, Design, Destiny, Delivery) dan dipraktikkan dalam hidup harian. Tentu saja tidak melupakan untuk menciptakan quality time di dalam keluarga; saat glenikan dan curhat, mempunyai ‘Mesbah Keluarga’ dan ‘Waktu Suci–saat Teduh/ hening. Termasuk adalah Pendalaman iman dalam keluarga pada waktu yang disepakati, membaca buku referensi (Youcat/Docat, Katekismus atau KKGK, ringkasan iman Katolik), Prodiakon juga harus melatih membangun kepekaan hati/compassion melalui sikap hidup harian, ugahari, berderma, kolekte, saling memberi pujian dan apresiasi positif dalam keluarga. Akhirnya, tidak hanya diri sendiri yang aktif sebagai prodiakon, tetapi juga sebagai orang tua mendorong anggota keluarga untuk ambil bagian/terlibat dalam komunitas/paguyuban/ Sosmaspol.

Acara pertemuan ini dilanjutkan dengan paparan singkat tentang APP 2020 oleh tim paroki dan dimeriahkan dengan pembagian beberapa buku doorprize dari PT Kanisius yang hadir untuk memenuhi kebutuhan akan buku ibadat dan buku pengembangan diri dan rohani yang bermutu. Semoga para prodiakon paroki semakin mengejawantahkan imamat Kristus dalam kehidupan keseharian dan semakin menjadi garam dan terang bagi sesama seperti orang Samaria yang berkenan untuk menolong sesamanya pun sesamanya itu adalah yang berseberangan dengannya.

 

*Anton Prima
Desain foto : Ayun