CERITA KAMI

Buku Sastra Pariwisata Referensi Pemda Kembangkan Pariwisata Berbasis Sastra dan Tradisi Lisan

27-08-2020 13:33

Paket gaya hidup yang sedang dicari sebagian orang saat ini adalah berwisata. Tempat wisata dan kisah yang membawa orang mendatangi lokasi yang diyakini seperti dalam tuturan membuat berbagai daerah berlomba merancang wisata terbaik.

Di sisi lain, tempat wisata itu juga membuat peneliti sastra menggali informasi dan memperkaya wilayah sastra. Sastra pariwisata menguatkan pandangan mengenai fungsi kemanfaatan sastra sebagai ruang sosialisasi, promosi, dan destinasi wisata. Itu yang diwujudkan saat peluncuran buku Sastra Pariwisata secara daring, Rabu (26/8/2020).

Peluncuran dilakukan dalam Sedaring Titian Baru Peluncuran Buku Sastra Pariwisata: Karya Kreatif, Inovasi Kritik, dan Industri Kreatif. Peluncuran buku itu juga menandai pisah sambut Novi Anoegrajekti yang berpindah tugas dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember ke Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

Ide penulisan Sastra Pariwisata muncul saat Munas dan Konferensi Internasional HISKI yang berlangsung di Aceh 11-13 Juli 2019. Salah satu artikel ditulis oleh Sapardi Djoko Damono berjudul “Mengemas Dongeng”.

Buku disiapkan selama 11 bulan dan diharapkan akan menjadi referensi bagi dinas pariwisata baik di provinsi maupun kabupaten/kota dalam pengembangan pariwisata berbasis sastra dan tradisi lisan. Pisah sambut itu diwarnai dengan diskusi menarik dengan pembicara I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana, Djoko Saryono dari Universitas Negeri Malang, dan Setya Yuwana Sudikan dari Universitas Negeri Surabaya.

Ketiga guru besar itu saling melengkapi dan menguatkan kehadiran sastra pariwisata sebagai bentuk kajian yang menarik dan penting. Darma menuturkan, sastra pariwisata memiliki dua dimensi, yaitu pendekatan kritik sastra dan pendekatan penulisan kreatif.

Karya sastra menjadi brand efektif destinasi pariwisata, misalnya cerita rakyat Putri Mandalika menjadi brand mega resort wisata di Lombok. Novel Eat Pray Love diinspirasi dari pengalaman penulisnya, Elizabeth Gilbert saat tur di Italia, India, dan Indonesia (Bali).

“Sebaliknya, novel dan film yang best seller itu mempromosikan destinasi wisata itu. Saat ini konsep storynomics diarahkan sebagai cara baru untuk memperkenalkan destinasi wisata melalui cerita,” kata Darma.

Ia berharap sastra pariwisata memberikan kontribusi baru dalam dinamika multidisipliner kajian humaniora dan pada kajian sasta terapan serta industri kreatif. Kajian sastra terapan itu akan bisa melampaui disipliner. Menurut Djoko, jika disipliner memiliki pembatasan, maka multidisipliner memberi arti penghubungan.

Saat bertemu dan menunjukkan irisan kesamaan, maka itu sudah masuk ke dalam wilayah interdisipliner. Saat ini sedang berlangsung upaya baik alamiah maupun dengan upaya agar terjadi peleburan. Itu yang kemudian disebut transdisipliner.

“Jika ingin masuk dalam kajian sastra pariwisata, masih harus dipikirkan seperangkat kebutuhan, seperti kawasan, metodologi, dan teori atau konsep beragam. Diperlukan paradigma 'beyond' disipliner dengan teori-teori yang bertaut dalam kajian yang dipandang lebih positif-konstruktif,” paparnya. Paradigma konvergensi dibutuhkan untuk melihat sastra sebagai fakta kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebudayaan.

Fakta itu yang kemudian diangkat Setya dalam paparannya. Ia melengkapi materi Darma dan Djoko dengan menunjukkan kawasan yang bertaut dengan kajian sastra di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan menunjukkan perwujudan legenda seperti dalam kisah Batu Belah, Malim Kundang, atau Batu Gantung di Sumatra, ia menawarkan penelitian sastra yang lebih beragam.

Bukan hanya lokasi dalam legenda, Setya juga mengajak lebih dari 500 peserta yang dari Aceh sampai ke Papua untuk kembali menelisik wilayahnya. Jangan-jangan di sana ada potensi wisata yang melebur dalam karya sastra.

Novi Anoegrajekti
FBS Universitas Negeri Jakarta
[email protected]

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Buku Sastra Pariwisata Referensi Pemda Kembangkan Pariwisata Berbasis Sastra dan Tradisi Lisan, https://surabaya.tribunnews.com/2020/08/26/buku-sastra-pariwisata-referensi-pemda-kembangkan-pariwisata-berbasis-sastra-dan-tradisi-lisan?page=3.

Editor: Parmin