CERITA KAMI

Gimik Agama Abad ke-21

17-02-2021 13:34

Membaca kitab putih ini ibarat mengabui mata kita. Penalaran dan pemikiran yang semula jemawa menjulang tiba-tiba terbanting tak ada sebab. Sesungguhnya betapa dangkal dan tumpul kita menghayati hidup yang baik dan benar. Abad ke-21 lebih menorehkan manusia-manusia bingung karena tak acuh terhadap warisan agung.


Wattimena memberikan contoh mudah dan lugu dirinya sehingga hari ini ia cakap dan cerdas mengutuki pembaca. Alkisah, sejak kecil ia sangat menyukai seluk-beluk spiritual. Ia terlibat aktif dalam agama yang diberikan orang tuanya. Agama warisan. Hebatnya, ia berhasrat tinggi mempelajari ajaran berbagai agama.


Akan tetapi, ketika melihat ajaran berbagai agama dan melihat perilaku nyata orang-orang beragama, ia suka bingung. Wattimena kecil bingung! Mengapa sangat berbeda dengan fakta?


Sebermula cerita ada agama yang mengajarkan damai dan kerukunan. Namun, umatnya sangat agresif (penuh kekerasan), sombong, dan menindas hak-hak asasi manusia. Ada pula agama yang mengajarkan kesederhanaan  dan cinta. Namun, perilaku umatnya suka pamer kekayaan dan manipulatif. Kembali Wattimena bingung.


Dalam kelana hidupnya, Wattimena terbentur dialektika. Ternyata agama berbeda dengan religiositas. Agama berbeda dengan spiritualitas. Sampailah Wattimena kini beroleh jawaban argumentatif. Inilah akar kemunafikan yang ia temukan dalam hidup sehari-hari. Dari sinilah salah satu spot incaran kritis nyerocos: “apa perbedaan antara agama, religiositas, dan spiritualitas?”


Abad ke-21 menjadi titik balik dan portal pikir spiritualitas bagi kita semua yang masih setia beragama. Mengapa? Salah kaprah beragama dipamerkan. Gincu beragama dinyinyirkan. Hasilnya, tidak sedikit agama terjatuh dalam formalisme. Ciri-cirinya gamblang, manusia beragama hanya mementingkan tampilan luar, seperti melaksanakan ritual dan aturan. Mereka melupakan pesan luhur dari agama yang bersangkutan.


Jika sudah terjebak formalisme, agama apa pun dengan gampang ditekuk menjadi mesin politik. Agama mudah digunakan sebagai pembenaran untuk pembodohan, kebencian, dan kemalasan berpikir. Ayat-ayat dipenggal lalu diunggulkan menjadi gimik untuk pembenaran sikap jahat terhadap perbedaan. Ujung-ujungnya, agama kehilangan keluhuran. Agama digiring menjadi sumber intoleransi dan kekerasan yang mencegat kemajuan masyarakat.


Buku dengan konten delapan bab mewah anggitan Reza AA Wattimena ini menjadi bukti, bukan hoaks, bukan utopia, bukan omong kosong belaka, bahwa keberagamaan kiwari nyata telah terjadi pendangkalan yang semakin mencolok mata. Sumir keberagamaan manusia Indonesia, betapa tidak!
Guraunya, formalisme agama mungkin menjadi virus sosial yang sangat mematikan di dunia sekarang ini. Dalam konteks ini, formalisme agama adalah pemahaman beragama yang terjebak pada bentuk (form) semata, seperti ritual, dan aturan-aturan yang sudah ketinggalan zaman. Orang dengan cap beragama lalu sibuk diri mengikuti aturan berdoa dan aturan moral yang dibuat ratusan, bahkan ribuan tahun silam, tanpa paham isi dan tujuan asalinya. Ia lalu cenderung tidak toleran terhadap perbedaan, bersikap fanatik dan radikal.


Manusia beragama wajib paham. Diksi agama (bahasa Indonesia) berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu a dan gama. A berarti tidak, gama berarti kacau. Tentunya jauh-jauh silam agama tertanam dalam pandangan dunia Hinduisme dan Buddhisme. Agama dapat dicerna sebagai upaya manusia untuk menghindari kekacauan. Agama adalah ikatan yang mencegah kekacauan terjadi.


Satu ilustrasi yang menohok dan mencolok di Indonesia, agama masih dijadikan biang keributan atau bahkan sekadar hiasan. Agama dipaksa untuk tampil baik dan saleh di hadapan umum, meskipun etiket dan cara berpikir manusia aslinya sungguh bejat dan korup. Tak aneh, para koruptor tiba-tiba terlihat berpakaian agamis ketika menjalani sidang tindak pidana korupsi. Tak heran, para pencuri uang rakyat rajin menyumbang ke rumah-rumah ibadah guna menutupi kebejatan sikap yang sesungguhnya. Adakah contoh-contoh lain?


Agama pada abad ke-21 di Indonesia harus belajar kembali tentang sinergi intuisi dan akal budi. Intuisi kuat dibesarkan peradaban Asia. Intuisi hadir menjadi panglima sebelum kedatangan pikiran. Intuisi menyediakan kejernihan manakala mencerna keadaan. Akal budi kuat dibesarkan peradaban Eropa. Akal budi melihat alam sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, hukum-hukum alam haruslah dipahami secara sempurna dan tuntas.


Dua peradaban (intuisi dan akal budi) mampu menciptakan balansi, asalkan kita semua yang beragama mau dan sadar saling belajar. Camkan, intuisi menciptakan kejernihan dan keseimbangan batin. Sementara itu, akal budi akan menyingkirkan pemikiran-pemikiran yang menindas represif dan terbelakang di dalam agama. Adab intuisi dan akal budi akan menciptakan manusia yang seimbang, yang cakap beragama secara seimbang. Manusia-manusia pongah Indonesia sungguh membutuhkan kekuatan adab agung ini.


Reza AA Wattimena menawarkan lima butir refleksi tentang pandom kehidupan beragama di Indonesia. Pertama, kebijaksanaan Barat-Timur. Indonesia bisa belajar sikap rasional beragama dari adab Eropa. Iman dipertanggungjawabkan dengan akal sehat dalam pluralitas hidup. Sikap spiritualitas adab Asia akan melentikkan hidup damai dengan identitas seluas alam semesta.


Kedua, alam dan akal budi. Semua agama mulai harus menyerukan upaya pelestarian alam. Alam mulai rusak karena gaya hidup manusia. Singkirkan pandangan bahwa manusia adalah tuan tanah di bumi dan alam adalah pembantu. Alam dan manusia sama. Ketiga, agama dan akal budi. Akal budi nomor satu di Eropa, sedang di Asia, akal budi hanyalah alat untuk bertahan hidup. Agama bisa melihat akal budi untuk memurnikan dirinya dari mitos dan keterbelakangan berpikir sembari menyatu dengan yang Ilahi.

Terima kasih kepada Media BPP Kemendagri dan saudara Anton Suparyanta  atas pemuatan resensi dengan judul Gimik Agama Abad ke-21 dari buku Untuk Semua Yang Beragama, dimuat Juli-Agustus 2020