CERITA KAMI

Dinamika Media Baca pada Awal Kemerdekaan Republik Indonesia

03-03-2021 15:24

Media massa, khususnya media baca berupa surat kabar dan majalah, tidak bisa dipungkiri berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di tengah ancaman dan gejolak masa pergerakan kebangsaan, media massa berperan menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme, meskipun masih segelintir orang yang dapat mengaksesnya. Selama pendudukan Jepang di Indonesia, media massa tetap berusaha dengan berbagai siasat untuk tetap berpihak pada perjuangan kemerdekaan meski kadang menjadi suara pemerintah pendudukan Jepang. Bahkan selama perang kemerdekaan, media massa turut berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Berjuang Melalui Tulisan

Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa penting bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Berita penyebaran proklamasi kemerdekaan Indonesia gencar dikumandangkan. Sejumlah daerah, khususnya di luar Pulau Jawa, mengalami keterlambatan karena terbatasnya sarana pendukung penyebaran informasi dan kondisi geografis yang menyebabkan daerah tersebut cukup sulit dijangkau. Oleh karena itu, penyebaran berita proklamasi pun dilakukan dengan berbagai cara dan secara bertahap agar bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Media pendukung yang dipakai untuk penyebaran antara lain adalah radio, poster, pamflet, spanduk, surat kabar, dan majalah.

 

Meski muncul kendala, di antaranya keterbatasan ruang gerak penulis atau wartawan dalam menyampaikan berita, gagasan, atau ide-ide berkaitan dengan perjuangan prakemerdekaan dan pascakemerdekaan; pemberitaan terus berjalan seiring makin kokohnya persatuan para kaum nasionalis dan makin bertambahnya pemahaman kaum awam terhadap situasi terkini yang terjadi pada saat itu. Sejak Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, esoknya penduduk mulai memburu surat kabar. Minat baca serta kesadaran akan kebutuhan media baca telah meningkat, rakyat Indonesia ingin tahu perkembangan negaranya yang baru merdeka ini melalui pers. Keberadaan media baca telah mendorong kemajuan kebudayaan dan peradaban, penyampaian informasi perkembangan politik kebangsaan, penyebarluasan ide-ide tentang kemerdekaan, dan menyuarakan pentingnya persatuan.

 

Dua surat kabar, Soeara Asia yang terbit di Surabaya dan Tjahaya yang terbit di Bandung, menjadi pelopor surat kabar pertama yang menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka menerbitkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. Mereka berani memuat berita tentang proklamasi kemerdekaan secara terang-terangan, meskipun pada saat itu Jepang melarang media untuk memuat tentang pergerakan, apalagi proklamasi kemerdekaan. Dukungan terus mengalir dari para pemuda yang berjuang lewat pers, seperti Adam Malik, Sayuti Melik, Sutan Syahrir, B.M. Diah, Ki Hajar Dewantara, yang tak gentar menyuarakan tulisan-tulisan pengobar semangat. Dampaknya hampir seluruh harian di Jawa menerbitkan berita yang memuat proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pada tanggal 20 Agustus 1945. Tak ketinggalan, pemasangan dan penempelan pamflet, poster, dan spanduk jamak dilakukan di berbagai penjuru kota dan ruang publik, seperti pasar, tembok-tembok di sepanjang jalan utama, dan gerbong-gerbong kereta api. Para wartawan dan penyiar radio Indonesia giat melakukan penyebarluasan, sehingga pada bulan September seluruh wilayah Indonesia dan dunia luar telah mengetahui tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Dinamika Awal Kemerdekaan di Yogyakarta

Perkembangan pers di Yogyakarta setelah proklamasi sangat pesat, meskipun tetap mendapat tekanan dari penguasa peralihan Jepang dan Sekutu. Kedaulatan Rakyat terbit 40 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu surat kabar tertua yang masih beredar hingga hari ini. Pada masa awal kemerdekaan, pers sering disebut sebagai pers perjuangan karena menjadi salah satu alat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kala itu terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pers. Hal yang diperebutkan terutama adalah peralatan percetakan yang awalnya dikuasai oleh para penjajah.

Awal tahun 1946 ibu kota Republik Indonesia berpindah ke Yogyakarta. Saat itu kondisi beberapa wilayah termasuk Jakarta tidak stabil karena diduduki oleh Belanda. Pemerintah Republik Indonesia, termasuk di dalamnya Bung Karno, Bung Hatta, beserta seluruh kabinet mengungsi ke Yogyakarta. Gelombang perpindahan penduduk ke Yogyakarta pun makin meningkat. Kondisi karut marut saat itu sempat diberitakan oleh berbagai media massa, termasuk surat kabar dan majalah di berbagai wilayah nusantara. Di sisi lain semangat nasionalisme dan patriotisme untuk mempertahankan kemerdekaan melalui jalur media baca senantiasa dikobarkan, didukung pula lewat jalur pendidikan dan organisasi pergerakan yang terus mengkristal pada periode-periode berikutnya.

 

Peran Penerbit dan Percetakan Kanisius

Canisius Drukkerij, yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Penerbit-Percetakan Kanisius, berdiri pada 26 Januari 1922 atas inisiatif Superior Misi Pastor J. Hoeberechts, SJ. Diawali dengan sebuah percetakan kecil yang mencetak buku-buku untuk kepentingan peribadatan Gereja dan buku-buku pendidikan untuk memenuhi kebutuhan murid-murid sekolah pribumi di Yogyakarta, Percetakan Kanisius turut mendukung gerakan pers perjuangan dengan mencetak majalah, surat kabar, dan media baca lain penggugah semangat nasionalisme. Pada permulaan operasinya, manajemen Percetakan Kanisius dipercayakan kepada bruder-bruder FIC. Hanya dengan menggunakan satu mesin cetak dan segelintir orang pekerja, Bruder Bellinus merintis perusahaan ini di sebuah bangunan kecil bekas gudang di kompleks sekolah milik Bruderan FIC Kidul Loji.

Canisius Drukkerij mencetak beberapa majalah pergerakan, seperti Tamtama Dalem dan Swaratama yang memberi kontribusi penting dalam perjuangan kaum muda di Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Pada tahun 1948 media massa mulai diwarnai berita perpecahan antara golongan kanan (Front Nasional) dan golongan ekstrem kiri (komunis–Front Demokrasi Rakyat). Menurut catatan Harian Mgr. A. Soegijapranta, SJ–13 Februari 1947-17 Agustus 1949–Atmasentana, pemimpin umum Percetakan Kanisius pada masa itu, berani menolak mencetak Patriot yang makin berbau komunis. Akhirnya beliau dihadapkan ke Presiden Soekarno dan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. Hasil pertemuan tersebut memutuskan sementara bahwa Kanisius terus akan mencetak Patriot sampai ada keputusan final. Apabila terdapat tulisan atau artikel yang tidak sesuai dengan semangat atau misi Kanisius perlu dibicarakan bersama dengan Persatuan Wartawan.

Setelah memasuki era kemerdekaan, Percetakan Kanisius turut memberikan kontribusi dalam proses indonesianisasi dengan menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Indonesia. Sejak saat itu karya Kanisius bukan hanya sebagai percetakan, melainkan juga penerbitan. Tahun 1951 merupakan awal periode baru untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pada tahun ini Kanisius menetapkan diri sebagai Penerbit buku sekolah di samping tetap menerbitkan buku gerejawi. Buku pelajaran terkenal yang diterbitkan pada masa awal kemerdekaan misalnya English all Over the World I, English all Over the World II, Peladjaran Ilmu Ukur, Ex Oriente Lux I-III (Sejarah Dunia I-III), dan Ilmu Hayat.

Sesuatu yang besar, tentu diawali dari yang kecil. Demikian pula yang dialami Penerbit Kanisius. Kanisius semula hanyalah Percetakan kecil dengan satu mesin cetak buatan Jerman dengan merek Kobolt dan hanya melayani kebutuhan sekolah. Seiring perkembangan zaman dan permintaan pasar, Penerbit-Percetakan Kanisius berkontribusi secara konsisten sampai hari ini terus menghadirkan buku-buku bermutu sebagai wujud kepedulian bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang makin berkualitas; masyarakat yang makin nasionalis dan bermartabat.

 

Referensi:
Windhu, I. Marsana. (2003). Bersiaplah Sewaktu-waktu Dibutuhkan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
"Media Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan"
https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/08/180000469/media-penyebaran-proklamasi-kemerdekaan?page=all Diunduh pada tanggal 23 Februari 2021 pukul 10.30 WIB.
https://pakarkomunikasi.com/perkembangan-pers-di-indonesia Diunduh pada tanggal 23 Februari 2021 pukul 10.45 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_surat_kabar_Indonesia Diunduh pada tanggal 23 Februari 2021 pukul 11.00 WIB
https://tirto.id/kedaulatan-rakyat-koran-pertama-setelah-ri-merdeka-dan-masih-eksis-eiNe Diunduh pada tanggal 25 Februari 2021 pukul 05.00 WIB
https://sains.kompas.com/read/2017/08/17/195459623/cerita-karut-marutnya-yogyakarta-di-awal-era-kemerdekaan?page=all Diunduh pada tangal 25 Februari 2021 pukul 05.15 WIB


*Flora Maharani
Kabag. Redaksi Kependidikan Umum