CERITA KAMI

Mengukir Sejarah untuk Generasi Penerus Bangsa

24-03-2021 15:23

Aspek Historis

Lazimnya sebuah peristiwa kelahiran, tentunya menjadi momen yang dinanti dan disambut dengan sukacita. Begitu pun ketika pada tahun 1922 “lahir sebuah percetakan kecil di kota Yogyakarta dengan nama Canisius Drukkerij. Inisiatif mendirikan percetakan ini lahir dari Superior Misi Serikat Jesus saat itu, Pater J. Hoeberechts, SJ.

Pada awalnya, Percetakan Kanisius sebatas mencetak buku-buku tulis dan bacaan untuk keperluan sekolah-sekolah, baru kemudian dalam perkembangannya mencetak buku-buku doa untuk keperluan Misi dan umat Katolik. Kita bisa membayangkan, sekolah-sekolah sudah pasti menyambut kehadiran Percetakan Kanisius dengan gembira, karena bisa memenuhi kebutuhan akan buku-buku tulis.

Singkat cerita, Percetakan Kanisius semakin berkembang, hingga tahun 1934 mulai menerima order dari luar. Bahkan di tahun 1937 penambahan mesin dan karyawan dilakukan. Sejak saat itu, Percetakan Kanisius menjadi salah satu Percetakan terbesar dan ternama.

Kapan Percetakan Kanisius mengembangkan usahanya menjadi penerbitan? Dari sumber-sumber yang ada, antara lain dari buku “Bersiaplah Sewaktu-waktu Dibutuhkan”, didapat penjelasan bahwa sekitar tahun 1950-1951, mulai terbit buku-buku untuk kebutuhan sekolah-sekolah dan sebagian besar ditulis oleh para Bruder FIC.

Keberadaan Kanisius sebagai penerbit dan percetakan waktu itu, tidak sekadar melayani kebutuhan internal gerejani saja, namun juga terlibat dalam perjuangan republik ini. Salah satu kontribusi dari Kanisius untuk negara ini adalah dengan dipercaya mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) pada akhir tahun 1946. ORI menjadi alat perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan asing.

Begitu banyak kisah dan cerita yang mengiringi perjalanan Kanisius menuju satu abad usianya. Pernik-pernik kisah di atas adalah sebagian kecil saja dari perjalanan bahtera Kanisius menuju pelabuhan yang diimpikan.

 

Dinamika Usaha Yang Menghidupi Misi

Situasi dan kondisi eksternal percetakan, sangat berpengaruh dalam perjalanan Kanisius. Beberapa kondisi bisa menjadi catatan dalam hal ini bahkan pada masa perjuangan kemerdekaan. Pada masa penjajahan Jepang yaitu di tahun 1942, usaha percetakan Kanisius mengalami kemunduran. Setelah pemerintah Jepang tidak berkuasa lagi di Indonesia, Percetakan Kanisius mulai bangkit lagi. Pindahnya Ibukota negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946, juga berpengaruh terhadap dinamika usaha percetakan. Kantor-kantor pemerintah ikut meramaikan order percetakan Kanisius.

Di masa pasca kemerdekaan, situasi dan kondisi ekonomi serta politik seperti: kebijakan KNOP 1978, krisis ekonomi (moneter) pada tahun 1998, juga berpengaruh terhadap kondisi perusahaan. Situasi-situasi sulit yang dihadapi, semakin mendewasakan dan menjadi “guru” yang baik dalam pengelolaan usaha penerbitan dan percetakan.

Layaknya sebuah organisasi yang mengemban misi kerasulan di satu sisi dan berorientasi keuntungan di sisi yang lain, bukan hal yang mudah untuk mengelolanya. Namun dengan spirit dan daya juang yang dimiliki oleh insan Kanisius, Puji Syukur bahwa Kanisius mampu terus berkarya hingga saat ini.

Zaman terus berkembang dan kemajuan teknologi juga ikut mengiringinya. Tak terkecuali adalah teknologi di bidang informasi. Kemajuan pada sisi teknologi menuntut perusahaan bisa menyesuaikan perkembangan ini. Penyesuaian yang dilakukan tidak hanya dari sisi hardware atau modernisasi peralatan saja namun juga dari sisi “software”, seperti peningkatan kualitas SDM dan tata kelola yang semakin profesional.

Menjelang satu abad usianya, Kanisius ingin kehadiran dan karyanya di negeri ini memberi warna yang indah. Bukan sekadar indah secara estetika saja, melainkan mampu menginspirasi anak bangsa ini supaya terwujud masyarakat yang nasionalis dan bermartabat, sesuai visi yang dicanangkan.

Aneka Karya

Berbicara tentang karya yang sudah dilahirkan oleh PT Kanisius, dari sisi kuantitatif tentu sudah sangat banyak. Ribuan judul buku sudah diterbitkan, mulai buku untuk melayani kebutuhan Gereja Katolik sampai dengan buku-buku bacaan yang bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Demikian juga juga dengan karya cetak yang dihasilkan, sudah sangat banyak layanan jasa cetak yang diberikan kepada banyak pelanggan.

PT Kanisius tidak semata-mata menjadikan pertimbangan pragmatis bisnis dalam menghasilkan karyanya. Namun melakukan aktivitasnya dalam koridor visi dan misi yang sudah dicanangkan dan berusaha dihidupi oleh segenap insan Kanisius. Maka, tata kelola perusahaan dan relasi yang dibangun dengan para mitra tidak boleh bertentangan dengan etika-etika bisnis yang berlaku.

 

Penutup

Sebagai penutup dari tulisan ini, kiranya cerita singkat mengenai Kanisius di atas bisa dipetik manfaat dan maknanya. Tak ubahnya kehidupan yang dijalani oleh manusia, pasti mengalami apa yang disebut sebagai situasi yang tidak nyaman, tantangan, problematik, atau apa pun nama yang disematkan. Begitu pun perjalanan sebuah perusahaan, tak terkecuali PT Kanisius.

Problematika dan tantangan yang dialami sudah barang tentu semakin mendewasakan dan apabila bisa dihadapi dan dilalui dengan baik, akan menambah rasa percaya diri bagi keluarga besar Kanisius. Perjalanan Kanisius yang sebentar lagi mencapai usia satu abad, sudah pasti dijalani oleh segenap insan yang bernaung di dalamnya dengan daya juang yang tinggi. Dalam konteks makro sebagai warga bangsa, spirit daya juang yang tinggi dalam menghadapi tantangan ini kiranya menjadi sikap hidup yang bisa diikuti.

 

*Charles Prima Cahya - Staf Bagian Penjualan Luar Jawa