CERITA KAMI

MENDUKUNG GERAKAN LITERASI SEJAK DINI

29-04-2021 07:57

APA ITU LITERASI?
Sebagian besar dari kita pasti sudah sering mendengar kata Literasi. Sebenarnya apa Literasi itu?
Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup.


Literasi yang dikemukakan oleh National Institute for Literacy (NIFL) adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.


Menurut Education Development Center (EDC), literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan     pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca “dunia”.


Dari berbagai definisi dan pengertian literasi yang terus dan selalu berkembang, pada hakikatnya literasi merupakan kemampuan baca dan tulis sesorang yang menjadi dasar bagi perkembangan makna literasi yang lebih luas lagi.

MENUMBUHKAN LITERASI SEJAK DINI
Menumbuhkan dan menanamkan pendidikan literasi harus dimulai sejak dini. Dimulai dengan mengenalkan, melatih, dan mengembangkan kemampuan dasar anak untuk mendengarkan, membaca, menulis, serta menghitung. Kemampuan dasar anak ini tidak hanya terbatas pada saat anak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, tetapi juga saat di rumah dengan orang tua yang juga harus turut andil dan berperan dalam menumbuhkan kemampuan ini. Kemampuan dasar ini dapat dimulai dari hal yang paling sederhana seperti membacakan buku cerita untuk anak. Dengan membacakan buku, maka anak akan mengenal banyak kosakata, sehingga bisa membantu anak untuk berkomunikasi dengan baik. Dengan banyak mendengarkan, kemampuan anak untuk bertutur akan semakin baik dan semakin terasah. Tidak hanya kosakata, anak juga bisa mengenal konsep tentang segala sesuatu yang berada di sekitarnya seperti warna, huruf, angka, bentuk, atau benda. Selain itu juga akan bermanfaat untuk memicu imajinasi dan kreativitas anak serta kemampuan anak untuk memecahkan masalah.


Di sisi lain, banyak juga orang tua yang tidak siap dalam mendidik anak-anaknya, apalagi di zaman digital ini. Bisa kita perhatikan sekitar kita, masih saja ada orang tua yang lebih memilih untuk sibuk bermain dengan gawai, entah itu bermain media sosial  atau bermain game, atau lebih memilih menonton sinetron; sementara sang anak dibiarkan beraktivitas sendiri dan terkadang anak juga diberi gawai agar tidak mengganggu aktivitas orang tuanya tersebut.


Perkembangan teknologi dan informasi secara langsung telah membawa generasi sekarang pada era literasi digital. Salah satu contohnya adalah beralihnya bahan bacaan dari fisik menjadi digital. Kita sering menemui bahwa anak-anak usia dini sudah begitu akrabnya dengan perangkat gawai. Anak-anak menunjukkan kecenderungan untuk lebih mudah beradaptasi dengan teknologi dibandingkan orang dewasa. Menanggapi kondisi seperti ini peran orang tua dalam mengawasi, membimbing, dan membatasi penggunaan gawai pada anak-anak sangatlah diperlukan. Salah satu dampak dari penggunaan gawai berlebihan pada anak adalah timbulnya sikap autis pada diri anak. Kemampuan anak untuk berbahasa dan bersosialisasi juga menjadi sangat berkurang. Belum lagi jika anak-anak sampai mengakses konten yang tidak baik atau belum sesuai untuk umur mereka.

PENERBIT PERCETAKAN KANISIUS MENDUKUNG GERAKAN LITERASI SEJAK DINI
Penerbit dan Percetakan Kanisius sebagai sebuah organisasi usaha yang hampir berusia 100 tahun, dalam perjalanannya selalu berkontribusi dalam mendukung gerakan literasi sejak dini. Hal ini diwujudkan melalui karya-karya yang diterbitkan oleh Kanisius. Karya-karya itu berupa buku-buku bacaan anak mulai dari tingkat pra sekolah hingga tingkat perguruan tinggi. Buku-buku bacaan anak yang dikembangkan oleh Penerbit dan Percetakan Kanisius berisi konten yang disesuaikan dengan tingkat umur anak, dibuat dengan ilustrasi gambar yang menarik minat anak, memantik ide-ide anak, menambah pengetahuan dan keterampilan untuk anak, sekaligus mengandung pesan moral yang ada dalam setiap buku bacaan. Selalu ada muatan pendidikan karakter anak sesuai jenjang umur anak dalam setiap produk buku Kanisius.


Buku-buku seperti Seri Franklin, Seri Elf Help Book for Kids, Seri Hewan Unik, Seri Aku Jadi Pemenang, Seri Pendidikan Karakter, dan Seri Rori adalah sebagian dari ratusan bahkan mungkin ribuan buku cerita anak dengan isi cerita yang menarik sekaligus mengandung pesan moral, yang sangat tepat untuk dibaca oleh anak-anak atau dibacakan untuk anak-anak.


Buku-buku seperti Seri Moti, Aktivitas Anak Cerdas untuk pra TK dan TK, Fun Learning English For Kids, Aku Bisa Calistung, Bright Kids, Pintar Berhitung, Mengenal Huruf dan Bilangan, adalah sebagian dari buku yang dapat digunakan sebagai buku pendukung untuk anak di tingkat pra TK maupun TK. Buku-buku tersebut dilengkapi dengan beragam aktivitas untuk anak-anak.


Kanisius juga sudah sejak lama menerbitkan buku pelajaran dan buku pendampingan yang disesuaikan dengan kurikulum tingkat sekolah. Sejarah dari Penerbit dan Percetakan Kanisius, mengutip dari Buku “Bersiap-Siaplah Sewaktu-Waktu Dibutuhkan” disebutkan bahwa pada periode pertama ada dua image kuat tentang Kanisius yaitu sebagai Percetakan dan Penerbiitan buku pelajaran sekolah. Setelah penyerahan dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, 27 Desember 1949, gairah permintaan buku pelajaran berbahasa Indonesia semakin besar. Disinilah Kanisius membaca dan menanggapi tanda-tanda zaman dengan menerbitkan buku pelajaran sekolah dari jenjang SD, SMP, dan SMU/K, hal ini masih terus dilakukan oleh Kanisius sampai dengan periode sekarang.


Buku seperti Cakap Membaca dan Menulis, Pendidikan Karakter, Tematik, Buku Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, dan buku-buku pengayaan lainnya, adalah sebagian dari contoh buku-buku ajar dan pendukung pada jenjang sekolah dari SD hingga SMA. Bentuk kontribusi nyata lainnya yang pernah dan sedang dilakukan oleh Penerbit Percetakan Kanisius dalam mendukung gerakan literasi antara lain:
1. Memberikan dukungan ke beberapa lembaga pendidikan dalam wujud pemberian buku secara cuma-cuma, misalnya seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah di bawah Yayasan Kanisius Pendidikan dan beberapa sekolah-sekolah lainnya.
2. Mengampanyekan gerakan Gemar Membaca melalui “Sahabat Literasi Kanisius” sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi nasional yang dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2017. Hal ini diwujudkan dengan menggelar kampanye gemar membaca melalui pembagian buku secara cuma-cuma di tempat dan fasiltas umum, sekaligus memberi edukasi kepada masyarakat akan pentingnya gemar membaca. Beberapa tempat yang pernah kami kunjungi untuk program gerakan literasi antara lain: Kereta Pramek, Kraton Surakarta, Candi Prambanan, Kebun Binatang Gembira Loka, Malioboro, Hutan Pinus Magunan.
3. Dibuatnya Pojok Baca Kanisius yang bisa diakses oleh masyarakat umum, juga merupakan salah sebagai bentuk lain untuk mengampanyekan gerakan ini.
4. Menyelenggarakan event-event yang melibatkan anak-anak secara langsung, seperti lomba mewarnai, lomba membaca kitab suci, lomba dramatisasi kitab suci dan beberapa kegiatan anak-anak lainnya yang tentunya juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan literasi pada anak yang dimulai sejak dini.


Untuk menghadapi perkembangan teknologi yang semakin mengarah kepada literasi digital, Kanisius juga sudah memulai untuk menerbitkan buku-buku dalam format digital atau lebih dikenal dengan e-book. Tak terkecuali juga untuk buku-buku bacaan anak. Harapannya dengan ini anak-anak akan punya akses secara digital dengan banyak pilihan buku-buku anak yang baik dan bermanfaat untuk bisa mereka baca.


Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui social media, dibuatlah sebuah program yang sangat menarik yang dinamakan Rabu Read Aloud. Kegiatan ini dilakukan dengan membuat konten video dengan menampilkan seseorang yang membacakan buku cerita anak. Konten ini tentunya sangat menarik untuk anak-anak, dengan melihat dan mendengarkan buku yang dibacakan, anak akan dibawa pada suasana serasa sedang didongengkan sebuah cerita. Konten ini bisa diakses dan dilihat di aplikasi Youtube, Instagram, dan Facebook PT Kanisius yang akan selalu diperbarui setiap hari Rabu.

PENUTUP
Tujuan utama dari menumbuhkan literasi sejak dini bukan hanya sekadar menekankan pada kemampuan untuk membaca atau menulis. Kedua jenis kemampuan itu menjadi dasar untuk tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dalam menyikapi setiap informasi yang diperoleh. Termasuk dalam hal bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Gerakan Literasi merupakan salah satu gerakan moral. Berhasil atau tidaknya gerakan ini menjadi tanggung jawab bersama baik itu orang tua, lembaga pendidikan, lembaga non pendidikan, dan juga lingkungan masyarakat secara keseluruhan. Maka, dibutuhkan sinergitas yang utuh dari berbagai pihak untuk bertanggung jawab atas gerakan moral yang sedang kita upayakan bersama ini.


*Antonius Subianto - Kabag. Akuntansi