CERITA KAMI

TURUT MENGEMBANGKAN PERCETAKAN DI INDONESIA

10-06-2021 14:11

AWAL BERDIRI

Canisius Drukkerij berdiri tanggal 26 Januari 1922 atas gagasan Superior Misi Pastor J. Hoeberechts, SJ. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Pastor J. Hoeberechts, SJ meminta Pemimpin Umum Kongregasi FIC (Bruder Bertholdus, FIC) di Maastricht untuk membantu. Maka, diutuslah Bruder Bellinus, FIC untuk memulai karya percetakan tersebut. Bruder Bellinus, FIC menjadi pemimpin Canisius Drukkerij. Dengan dua mesin dan dibantu tiga orang karyawan Canisius Drukkerij mulai dijalankan di gedung bekas pabrik besi, jalan Panembahan Senopati 16, Yogyakarta.

Setelah berdiri satu tahun, pada bulan Desember 1923, kebutuhan percetakan semakin meningkat. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, gudang dibongkar dan dibangunlah gedung percetakan seluas 200 m2. Pembaruan mesin dilakukan dengan mendatangkan mesin-mesin baru dari Eropa dan menambah jumlah karyawan menjadi 20 orang.

Pada awal berdirinya, Canisius Drukkerij mencetak buku gerejawi seperti Babadipoen Santo Franciscus-Xaverius: Rasul Agung ing Tanah Indija (1922), Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus (1923), dan mencetak surat kabar dan majalah, antara lain: Suara Katoelik, Swara Tama (1920), dan Tamtama Dalem (1928). Canisius Drukkerij juga mencetak kebutuhan buku-buku pelajaran dan buku-buku tulis yang terus meningkat karena berkembangnya sekolah-sekolah yang ditangani oleh Yayasan Kanisius.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan cetak guna mendukung kegiatan misi, paroki, dan sekolah, Canisius Drukkerij membutuhkan tempat produksi yang lebih besar, maka pada tahun 1934 berpindah di tempat bekas Gereja Jawa, (sekarang letaknya di sebelah timur Gereja Kidulloji). Tahun 1937 Percetakan Kanisius melakukan pembelian mesin modern satu Linotype, Snelpers besar (Mile dan Lee), Degelpers otomatis (Kobolt), mesin garis, mesin potong, mesin jahit untuk buku tulis dan dua pres tangan. Dengan kedatangan mesin-mesin tersebut?pada masa itu?Percetakan Kanisius menjadi salah satu percetakan terbesar dan ternama. Seiring perjalanan waktu dan kebutuhan, nama Canisius Drukkerij diubah menjadi Percetakan Kanisius. Lokasi percetakan juga berpindah ke Jalan Cempaka Deresan Yogyakarta.

 

DARI TEKNOLOGI KE TEKNOLOGI

Setelah lokasi percetakan berpindah ke Deresan, Pastor Lampe, SJ?sebagai direktur?menggagas pembaruan teknologi percetakan. Maka, Pastor Lampe, SJ segera mendatangkan mesin-mesin cetak offset dari Eropa. Dengan kedatangan mesin cetak offset tersebut maka Percetakan Kanisius menjadi percetakan offset pertama di Indonesia.

Dari tahun ke tahun, pembaruan mesin percetakan terus dilakukan dengan membeli mesin offset satu warna merek Solna, satu mesin Multilith, mesin lipat, jahit benang, jahit kawat, mesin sampul, mesin ril, mesin potong tiga sisi, mesin cetak emas, mesin kumpul buku, mesin perforir, mesin pons, dan lain-lain. Tahun 1970 membeli mesin cetak offset empat warna merek Champion dan mesin potong merek Polar-Eltromat dengan otomat-otomat elektronik dan juga pembaruan di bagian-bagian lain, yaitu Reproduksi, Composing, dan Administrasi.

Seiring kemajuan teknologi, pada tahun 1975, susun huruf timah diganti dengan mesin Setting Compugraphic yang didatangkan dari Amerika. Mesin ini merupakan mesin susun huruf yang paling modern yang digunakan di Indonesia pada zaman itu. Namun, mesin Setting Compugraphic hanya bertahan 10 tahun dan digantikan dengan mesin Apple Macintosh, dengan program Word, PageMaker, Freehand, dan lain-lain. Teknologi terbaru ini bisa diaplikasikan untuk mengetik teks, mengolah naskah, dan membuat gambar-gambar atau ilustrasi.

Pembaruan mesin percetakan tidak akan efektif dan optimal jika tidak didukung oleh tenaga terampil, maka pemimpin Percetakan Kanisius mengambil langkah untuk melakukan pelatihan bagi para karyawan dengan beberapa cara, antara lain: tahun 1968 mendatangkan dua orang ahli/instruktur dari Swiss yaitu Mr. Kurt Hits dan Mr. Otto Hurni yang memberikan pendidikan bagi para karyawan muda di bidang cetak offset dan reproduksi, tahun 1976 mendatangkan seorang ahli percetakan dari Jerman, Mr. Georg Scheder untuk memberikan kursus, pelatihan, dan memperdalam teori cetak-mencetak bagi sebagian karyawan Kanisius. Percetakan Kanisius juga menugaskan karyawan untuk studi percetakan ke luar negeri, tahun 1978 Bapak H. Sukimin ke Aachen, Jerman dan tahun 2005 menugaskan Bapak Y. Suharno belajar grafika ke Afrika.

Seiring tantangan yang dihadapi, Percetakan Kanisius terus melakukan pembenahan agar tetap menjadi percetakan tepercaya dengan berfokus pada kualitas, menjawab kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Upaya itu dilakukan dengan pembaruan mesin-mesin produksi. Mesin produksi seperti pracetak Computer to Plate Suprasetter, mesin cetak offset Rolland, Miller, Speedmaster didatangkan. Mesin finishing seperti Muller Martini, Stahl pun didatangkan. Untuk menjawab kebutuhan pelanggan akan short run many titles dan personalisasi dalam setiap cetakan didatangkan mesin cetak digital OCE dan Konika Minolta.

Sejak 2009, percetakan Kanisius menstandardisasi proses dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu 9001:2015. Sistem ini juga meliputi proses pengelolaan lingkungan hidup dengan ditandai diperolehnya sertifikat biru dari pemerintah atas ketaatan 100% dalam mengelola lingkungan hidup termasuk pengelolaan limbah produksi.

 

PERCETAKAN KANISIUS TERLIBAT DALAM PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Sejak awal berdirinya, Percetakan Kanisius hadir untuk membantu karya Misi di Jawa dengan mencetak buku gereja, buku sekolah, majalah/ koran perjuangan dan kebutuhan instansi pemerintah, perusahaan serta masyarakat umum. Kantor Kepatihan Yogyakarta juga melakukan order cetak ke Percetakan Kanisius, padahal saat itu memiliki percetakan sendiri. Misi awal tersebut secara konsisten terus diperjuangkan oleh Percetakan Kanisius dalam rangka mendukung perjuangan dan mengisi Kemerdekaan RI pada tahun 1945, dengan menerbitkan buku-buku rohani/ gerejawi, buku-buku sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA/SMK, dan yang paling menonjol adalah buku-buku SMP. Dengan demikian Kanisius adalah Penerbit dan Percetakan, dan hal tersebut terus dihidupi oleh Kanisius hingga saat ini.

Tahun 1946 Percetakan Kanisius dipercaya oleh Pemerintah untuk mencetak Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), mulai dari emisi pertama ORI, disusul emisi kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Dengan dipercaya mencetak Oeang Repoeblik Indonesia, Percetakan Kanisius ikut terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajah karena Oeang Repoeblik Indonesia menjadi salah satu alat membendung uang Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang masih beredar di masyarakat waktu itu. Selain mencetak ORI, percetakan Kanisius juga mencetak Majalah Patriot, namun majalah ini semakin berbau komunis, maka Bapak Atmasentana sebagai pemimpin umum Percetakan Kanisius tidak mau mencetak lagi, dan kemudian terjadilah demostrasi melawan Bapak Atmasentana. Akhirnya beliau dihadapkan kepada Presiden Soekarno dan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat dengan keputusan sementara bahwa Percetakan Kanisius terus mencetak Patriot sampai ada keputusan definitif. Jika ada tulisan atau artikel dari Patriot yang tidak sesuai dengan semangat atau misi Kanisius, perlu dibicarakan bersama dengan Persatuan Wartawan.

Sampai saat ini Percetakan Kanisius terus mencetak buku-buku berkualitas untuk melayani kebutuhan Gereja dan Pendidikan bangsa. Selain itu Percetakan Kanisius juga menerima ragam cetakan dari pelanggan luar sejauh tidak bertentangan dengan misi. Untuk menjawab kebutuhan, Percetakan Kanisius merambah lini bisnis kemasan, hal ini ditempuh tidak semata-mata demi menjawab peluang bisnis melainkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat atas produk tersebut.

 

 MENUJU 100 TAHUN

Tepatnya 26 Januari 2022 yang akan datang, Karya Kanisius berusia 100 tahun. Percetakan Kanisius menjadi salah satu percetakan tertua Indonesia. Tidak berlebihan jika kehadiran Percetakan Kanisius dengan sejarah panjangnya menjadi penting dan diharapkan terus hadir di dunia percetakan Indonesia. Namun, menjelang usia 100 tahun kondisi bisnis tidak cukup kondusif karena dampak pandemi covid-19. Kondisi ini harus disikapi dengan bijaksana, cepat, dan tepat sehingga Percetakan Kanisius selalu mendapatkan relevansi pada setiap zaman tanpa meninggalkan misi awal pendiriannya.

Semoga Percetakan Kanisius terus mampu berlayar di tengah situasi yang tidak mudah paska pandemi covid-19, tetap mampu memberikan sumbangan bagi Gereja, Pendidikan, dan bangsa dengan usia yang tidak muda. Pun dituntut keluwesan untuk selalu menyesuaikan diri di tengah arus zaman digital-millenial. Layanan Percetakan Kanisius yang luwes, lincah, energik, meretas jarak, fokus pada kualitas dan menjawab kebutuhan zaman menjadi penting untuk diperhatikan.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa Percetakan Kanisius mampu bertahan hingga usia menuju 100 tahun dengan perjalanan yang penuh liku, mengalami gelombang pasang dan surut, keberhasilan dan kegagalan, posisi pada pinggir jurang namun tetap bertahan hingga saat ini, hal ini sungguh harus disadari benar karena adanya sinergi antara awam dan biarawan, baik para Bruder FIC maupun para pastor Yesuit. Menapaki tahun ke-100 dalam sebuah karya kiranya bukan hal yang biasa. Ini menjadi momentum yang luar biasa. Dalam terang iman, kita percaya bahwa penyertaan Allah dalam setiap dinamika langkah perjalanan karya Percetakan Kanisius menjadi pondasi dasar yang harus terus-menerus disadari dan disyukuri. Kata “cukup” dan “berbagi” tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Percetakan Kanisius hingga menuju usia 100 tahun. Terima kasih, Percetakan Kanisius telah dipercaya sebagai rekan kerja.

 

(M.A. Budiastuti - Manajer Percetakan PT Kanisius)

 

Sumber Bacaan:

  1. Bersiaplah Sewaktu-Waktu Dibutuhkan, Penerbit Kanisius, tahun 2003.
  2. Sinergi Bakti Untuk Negeri, PT Kanisius, tahun 2017.
  3. Refleksi Tonggak Rahmat Percetakan-Penerbitan Kanisius, PT Kanisius, tahun 2021.