CERITA KAMI

Roman Romo Rahadi

21-04-2018 10:42

—Roman—

ROMO RAHADI

Sekilat api berpijar fanatik dari manik matanya. Tetapi wajahnya kembali lembut, dan jelas hanya satu yang tak bisa ditafsirkan salah: ia sangat senang dengan perjumpaan kami ini. Pandangan mata kami saling bercumbuan dan dengan nada agak serak ia berkata datar.

ROMO RAHADI adalah salah satu roman karya Romo Y.B. Mangunwijaya—dalam roman ini beliau menyamarkan nama menjadi Y. Wastu Wijaya—yang mengisahkan pergulatan seorang imam muda Katolik (yang tunduk pada Hukum Gereja dan berjanji setia hidup selibat selamanya), namun tetap menjadi manusia yang utuh dan wajar.

Roman ini mengisahkan perjumpaan Rahadi dengan seorang gadis Eropa, Hildegard, ketika sedang belajar di luar negeri. Juga kisah persahabatan dengan teman masa kecil, Rosi, yang baru saja menjanda setelah sang suami meninggal. Pertemuan ketiga tokoh ini terjadi di pedalaman Irian Jaya, di tanah Papua. Rahadi yang secara tidak sengaja berjumpa lagi dengan Hildegard dan Rosi, pada saat-saat kritis biduk kapalnya harus mengalami konflik batin dan memutuskan arah hidupnya.

Keputusan yang diambil Rahadi, tidak melulu berasal dari dirinya sendiri, meskipun keputusan akhir ada di tangannya. Namun juga ada dukungan dari tokoh lain yang juga ikut memberi warna pada roman ini. Ditunjukkan pula kisah kakaknya, yang adalah seorang tentara yang bertugas di bumi Irian. Temukan akhir kisah roman yang menarik ini. Siapakah yang akan dipilih Romo Rahadi?

Roman ini pertama kali diterbitkan tahun 1981 oleh penerbit Pustaka Jaya. Sejak itu, entah sudah berapa ribu eksemplar buku ini tersebar. Sejak tahun 2016, hak cipta terhadap roman ini dipercayakan kepada kami, Penerbit PT KANISIUS oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED), warisan Romo Mangunwijaya. Dengan senang hati kami akan menerbitkan kembali roman fenomenal karya seorang imam yang juga fenomenal ini. Raganya sudah tidak bersama kita, namun karya-karyanya selalu ada untuk kita resapi dan nikmati bersama.

 

Sedikit kami kisahkan perjalanan kami menggarap roman ROMO RAHADI. Tidak adanya draft versi digital yang harus kami garap mengharuskan kami untuk hunting mencari buku fisik. Semua tempat di Yogya sudah kami jajaki untuk mencari keberadaan fisik roman ini. Namun tak juga kami temukan. Sampai akhirnya kami ingat, ke mana kami harus mencari “barang antik” yang sudah tidak umum di pasaran. Kami menembus Perpustakaan Kolsani, tempat semua buku tersimpan dengan rapi dan apik. Akhirnya, perjuangan kami berbuah. Kami temukan roman ROMO RAHADI—meski bentuknya bukan buku fisik asli—namun berupa hasil fotokopian. Tidak jadi soal… kami akan menggunakan data fisik ini sebagai rujukan utama untuk menghasilkan versi digital nanti.

Proses pengadaan dari fisik ke digital menyita cukup banyak waktu. Jelang pertengahan tahun 2017, naskah sudah siap tercetak. Kami bisa bernapas lega. Masih ada satu tantangan baru lagi. Kover. Perwajahan depan buku bagian depan. Kami membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan kover yang menarik dan kekinian—layaknya kover zaman now—seperti yang sudah Anda semua lihat.

Semoga karya-karya Bapak beserta seluruh adiutores di Irian melimpah berbuah dan merupakan inspirasi baru untuk saya . . . Semoga dari rahim rimba Irian yang masih perawan ini, kehidupan baru dapat lahir bagi saya, seperti yang bapak harapkan.

Semoga kehadiran roman ROMO RAHADI ini juga membuahkan inspirasi baru untuk Anda semua. Selamat menjajaki kehidupan baru. Selamat datang ROMO RAHADI …

—Tim Redaksi Gerejawi—