CERITA KAMI

Pancasila Orientasi Mewujudkan Peradaban Kasih

15-05-2018 09:03

Ideologi Pancasila dan agama merupakan dua institusi yang berkontribusi dalam menentukan peradaban manusia. Yudi Latif, Ph.D (Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) berpendapat semua sila dalam Pancasila dipersatukan oleh cinta kasih. “Semua sila (dalam Pancasila) dipersatukan oleh cinta kasih. Semangat cinta kasih itulah yang dalam kata kerjanya disebut Bung Karno dengan istilah gotong royong.” (Yudi Latif, 2017, hlm. 44). Titik temu antara Pancasila dengan Kristianitas bertumpu pada ajaran tentang cinta kasih. Pancasila pada hakikatnya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai agama yang diyakini dan dijunjung tinggi oleh setiap orang  beradab.  Orang kristiani menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Pancasilais bukanlah slogan kata-kata kosong, melainkan sebuah keniscayaan apabila sungguh mengamalkan ajaran cinta kasih pada Tuhan dan sesama.

Gereja Katolik menerima sepenuh hati Pancasila sebagai asas hidup bersama bukan karena pertimbangan taktis-politis, melainkan pesan moral yang terdapat di dalamnya berisikan nilai-nilai dasar hidup manusiawi yang sejalan dengan ajaran maupun pandangan Gereja. Dengan demikian menerima Pancasila bukan merupakan beban tambahan bagi umat Katolik, melainkan justru dukungan sekaligus peneguhan dari Negara Republik Indonesia dalam mewujudkan peradaban kasih.

Arus informasi yang beredar akhir-akhir ini sangat masif, liar, dan sulit terkontrol.  Pancasila dan agama terkadang dipolitisasi untuk mewujudkan kepentingan jangka pendek sehingga membuat keruh masyarakat. Strategi budaya untuk menginternalisasi nilai-nilai Ideologi dan agama secara beradab dapat ditempuh dengan menggunakan jalur pendidikan dan politik. Pendidikan merupakan upaya pembebasan dari kebodohan. Pendidikan membangun kesadaran kritis, sehingga masyarakat dapat memilih dan memilah informasi yang sesat maupun yang benar. Pendidikan juga dapat digunakan sebagai pintu masuk mewartakan nilai-nilai luhur secara beradab karena memberi ruang pada rasio untuk mengambil keputusan secara bebas. Melalui interaksi dialogal berlandaskan argumentasi rasional, internalisasi nilai-nilai Pancasila dan agama dapat tersosialisasi serta melembaga dalam diri manusia sehingga menjadi personal habitus.

Pengamalan Pancasila serta pewartaan agama hendaknya tidak hanya berhenti pada kesadaran individu, melainkan sampai pada tahap perumusan, pengambilan maupun pengawalan kebijakan publik. Titik temu antara Pancasila dengan iman Katolik terdapat dalam kesepahaman bahwa politik bukan semata-mata untuk meraih kekuasaan, melainkan menjadi sarana  mewujudkan kesejahteraan umum (bonum Commune). Umat Katolik diutus untuk menjadi garam dan terang dunia, sehingga hendaknya dapat mengawal, mengawasi, meluruskan ataupun membuat kebijakan publik agar terarah pada kesejahteraan umum. *