DARI MEDIA

Hoax dan Pentingnya Berpikir Kritis

15-10-2018 10:35

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi membuat segala hal bisa bergerak, menyebar, dan berubah dengan sangat cepat, dinamis, dan kompleks. Orang butuh suatu kecakapan agar mampu memandang dan menyikapi segala sesuatu secara jernih di tengah banjir informasi, gagagan, pendapat, bahkan ideologi di ruang maya. Jika tidak, orang akan gampang hanyut dalam arus pemahaman dan pemikiran yang keliru tanpa menyadarinya, bahkan menimbulkan masalah secara luas.

Penyebaran berita bohong (hoax) yang kerap menimbulkan pertikaian dan saling hujat di linimasa adalah contoh gamblang tentang bagaimana ketidakmampuan berpikir kritis bisa berdampak buruk secara luas. Karena pikiran diliputi kebencian, kecurigaan, dan emosi, orang bisa gegabah memercayai dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Berawal dari sana, berita hoax menyebar cepat dan luas, menimbulkan efek domino, sehingga menimbulkan dampak mengkhawatirkan.

Melihat fenomena tersebut, kecakapan berpikir kritis menjadi kebutuhan penting. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah tenggelam dalam asumsi, prasangka, dan berbagai pandangan tak teruji. Berpikir kritis tak sekadar membuat orang mampu memandang segala sesuatu secara jernih, selektif, dan objektif. Pemikiran kritis juga akan terejawantah dalam sikap dan tindakan yang sangat membantu orang dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Namun, bagaimana cara agar kita bisa memiliki pemikiran yang kritis? Kasdin Sihotang dalam buku ini menyajikan ulasan panjang lebar tentang bagaimana membentuk kecakapan berpikir kritis. Ulasan dibangun runtut, dari paparan tentang berbagai cara berpikir yang menghambat pemikiran kritis, arti dan keutamaan berpikir kritis, level dan elemen berpikir kritis, standar-standar intelektual berpikir kritis, hingga topik-topik spesifik seperti memahami konsep, term, proposisi, argumen, penalaran, silogisme, induksi, dan sebagainya. 

Mula-mula, dijabarkan hambatan-hambatan berpikir kritis agar pembaca tahu berbagai hal yang bisa mengganggu pemikiran kritis. Hambatan tersebut adalah: cara berpikir yang berpusat pada diri sendiri (egosentris berlebihan), pola berpikir yang mengabaikan nilai-nilai universal, berpikir tanpa pengujian, hingga pemujaan terhadap terknologi.

Terima kasih kepada Koran Sindo dan Saudara Al-Mahfud atas pemuatan resensi Hoax dan Pentingnya Berpikir Kritis dari buku Berpikir Kritis Kecakapan Hidup di Era Digital dimuat Minggu, 14 Oktober 2018.