DARI MEDIA

Satire Politisi dengan Lima Kecerdasan Politik

14-12-2019 09:45

Hari-hari ini bangsa Indonesia dihantam haru biru dari berbagai penjuru. Di satu sisi, ideologi neoliberalisme merasuki sendi-sendi politik, ekonomi, hukum, dan budaya. Di dalam nalar ideologi ini, uang menjadi maharaja. Segalanya tunduk pada kekuatan uang. Politik mudah dibeli dengan uang. Bahkan, hukum dan budaya, yang merawat kelestarian hidup bersama, juga terlena dibeli dengan uang.

Kursi politik gampang diperoleh si penawar tertinggi. Hukuman bisa ditawar dengan suap. Gaya hidup masyarakat pun dijejali berbagai upaya untuk meraup uang dan bergegas membelanjakannya untuk kesenangan pribadi. Nilai-nilai kesederhanaan hidup dan solidaritas terkikis habis. Di sisi lain, radikalisme agama pun merasuki dunia politik, ekonomi, hukum, dan budaya. Radikalisme agama adalah kerinduan akan kemurnian ajaran suatu agama di dunia yang majemuk dan kompleks. Radikalisme menjadi tuntutan dan ancaman. Ini jelas sebagai indikasi sakit jiwa. Tidak hanya itu, kaum radikal bersedia melakukan kekerasan demi mewujudkan “mimpi sakit jiwa” mereka. Buku ini meledek kita dengan ratusan mini-esai. Menjadi orang Indonesia jatuh hanya digaruk-garuk Pilkada Jakarta 2017 silam yang berimbas hingga bara politik 2019. Bahkan, lebih sarkastis lagi, visioner ketahanan nasional ke depan menjadi taruhan yang mencekam.

Terima kasih kepada Media BPP dan Saudara Anton Suparyanta atas pemuatan resensi berjudul Satire Politisi dengan Lima Kecerdasan Politik dari buku Protopia Philosophia, Berfilsafat secara Kontekstual. Dimuat di edisi September-Oktober 2019.