DARI MEDIA

Mengungkai Peradaban Pikir ‘Kafe Cogito

17-12-2019 12:39

Jika dewasa ini kita mengungkai awal era modern atau modernitas abad XV hingga abad XXI, tentu muncul jarak antargenerasi yang berlipat. Berapa ratus tahun jarak antara awal era modern dan pijakan abad XXI sekarang ini? Rentang jarak tersebut hanya mampu ditempuh melalui diskusi-diskusi cerdas dalam kerangka pikir filsafat, misalnya tentang postmodernisme, postsekularisme, dan posthumanisme.

Denyut nadi modern ditandai dengan perhargaan terhadap rasionalitas, akselerasi berbagai cabang sains, laju industri, kran demokrasi dan HAM, serta penghambaan sekularitas (kebutuhan duniawi semata). Hebatnya, pemikiran modern ini membentuk pemahaman manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai-nilai, sehingga mencapai taraf wawasan dunia yang melahirkan beragam masyarakat dan kebudayaan di muka bumi.

Sejak awal buku ini telah menuliskan bahwa sebelum era modern hingga abad XXI ini terhamparlah satu zaman yang disebut Abad Pertengahan. Adakah ciri khususnya? Begitu berpengaruhkah terhadap eksistensi hidup kali ini?

Abad Pertengahan berciri teosentris. Abad modern berciri antroposentris. Perbedaan minat zaman inilah yang membuat kilatan pikir lintas generasi lintas zaman senantiasa menarik. Ambil satu contoh, karena melihat segalanya (termasuk Tuhan) dari kacamata manusia, pemikiran modern disebut aras pikir antroposentris. Sudut pandang ini berbeda dengan minat zaman sebelumnya (Abad Pertengahan) yang berpikir secara teosentris. Perbedaan cara pandang tersebut membuat pergeseran dari teosentris ke antroposentris dan terjadi kontinu berangsur-angsur. Pergeseran ini pun diwarnai gerakan-gerakan kontra-intelektual dan politis.

Terima kasih kepada MEDIA BPP Kemendagri dan Saudara Anton Suparyanta atas pemuatan Resensi “Mengungkai Peradaban Pikir ‘Kafe Cogito” dari Buku Pemikiran Modern dari Machiavelli hingga Nietzsche. Dimuat Edisi Desember 2019.