DARI MEDIA

Petuah Purba Stoa untuk Para Pemikir Kiwari

10-06-2020 08:47

Kiwari Nusantara menyajikan tontonan kejiwaan yang menyimpang dari fragmen hidup orang-orang Indon. Bahkan, para pemikir dan pemangku adab sekelas negara pun sinis melakoni kiwari. Tak sedikit intelektual berlagak sinting. Klimaksnya, mereka tersesat memperoleh jalan keutamaan hidup. Gagal mensyukuri diri sebagai identitas manusia waras. Karakter jatmika sengaja digadaikan demi hasrat dan asa abal-abal.

Utopia nyata-nyata diberhalai. Tengoklah, pesona arketipe kerajaan kuno (ala “Keraton Agung Sejagat”-Purworejo dan “Sunda Empire”-Bandung) hingga berhala uang (ala “King of The King”-Banten) dan dengus “Kerajaan Mulawarman”-Kutai Kartanegara) adalah fenomena matinya nalar atau rasio semesta. Kiwari tak sekadar berarti mazhab modern, mutakhir, kontemporer, ataupun kontekstual. Kiwari menjadi bukti dini tentang sinisme zaman digitalisasi, supervisi, 4.0, ataupun intipan 5.0 yang naga-naganya menjungkirbalikkan pendewaan logika matematika.

Kiwari membuncahkan sinisme purba (filsafat klasik Yunani-Romawi kuno) untuk bangkit kembali. Coleklah pesohor purba Epictetus, Marcus Aurelius, Seneca yang berjaya 2000 tahun silam. Tak segan-segan, kiwari gencar meneroka kitab-kitab lawas kejiwaan CG Jung, S Freud, pun F Nietzsche guna membuka tabir “halu” tabiat manusia terkini. Betapa tergopoh mencerna buku anggitan A.Setyo Wibowo ini! Namun, titis sebagai kritik santuy untuk para intelektual kiwari. Apa yang hendak mereka cari dan pertaruhkan dalam hidup ini?

Terima kasih kepada majalah bulanan MEDIA BPP Kemendagri dan saudara Anton Suparyanta  atas pemuatan resensi dengan judul “Petuah Purba Stoa untuk Para Pemikir Kiwari” dari buku  Ataraxia, Bahagia Menurut Stoikisme dimuat edisi Januari-Februari.