DARI MEDIA

Era Halu Sinting, Membongkar ”Keraton Ide” Filsuf Sejagat

23-06-2020 09:09

Menjejak awal 2020 muncullah fenomena “kerajaan halu”. Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jateng, membuat heboh pola pikir manusia modern. Sakitkah rohani sebagian masyarakat nusantara? KAS ibarat bara. KAS menyulut fenomena serupa di Klaten, Blora, dan Bandung. Ini terbaca menjadi fenomena masyarakat jiwa-suwung, nihilis.

Seberapa gawatkah fenomena KAS tersebut dengan wacana ide-ide besar dalam buku pemikiran adab modern ini? Sinting dan halukah? Jangan salahkan Nietzsche gila gegara gagal mental ketika membarui cara berpikir, berfilsafat agar merakyat. Justru inilah tuaian sinisme untuk manusia-manusia kekinian. Nietzscheankah? Alih-alih kupasan mental Nietzsche dalam buku ini sengaja menjadi penutup keseluruhan bab.

Nietzsche tergolong pemikir ekstrem yang mengajarkan dan menghayati ateisme. Sejak muda, ia ateis. Ia murid Prof Ritschl di Leipzig. Waktu itu ia berusia 21. Secara gamblang, ia mengumumkan ateisnya dalam aforisme (resolusi atau pernyataan padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum) 125 buku Pengetahuan Ceria.

 

Zaman Sinting

Nietzsche pun lihai bermain narasi. Ia menceritakan orang gila yang membawa sebuah lentera menyala ke tengah-tengah pasar dan terus-menerus berseru, “Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!” Orang-orang di pasar menertawakannya. Tetapi si gila itu malah melompat ke tengah-tengah mereka sembari berteriak, “Ke manakah Allah? Aku memberi tahu kalian. Kita sudah membunuhnya. Kita semua pembunuh. Tidakkah kita menghirup ruang kosong? Allah sudah mati. Dan kita telah membunuhnya.”

Dalam perumpamaan tersebut, Nietzsche melukiskan dirinya sebagai orang gila itu. Ia tidak hanya mengumumkan ateisme, tetapi juga meramalkan datangnya zaman ateistis. Kegilaan ini adalah kehilangan Allah. Orang-orang zaman itu tidak memahaminya sampai datang zaman kegilaan universal, yakni penemuan kesadaran bahwa manusia telah kehilangan Allah. Ia menyambutnya dengan girang sebab kematian Allah adalah kebebasan manusia. Tak ada larangan atau aturan lagi.

Terima kasih kepada Koran Sindo dan saudara Anton Suparyanta  atas pemuatan resensi dengan judul Era Halu Sinting, Membongkar ”Keraton Ide” Filsuf Sejagat dari buku Pemikiran Modern dari Machiavelli hingga Nietzsche, dimuat Sabtu, 18/1/2020