DARI MEDIA

Junaedi Setiyono Lewat Novel “Tembang dan Perang” Perkaya Khazanah Cerita Panji

14-01-2021 16:26

Novel terbitan PT Kanisius berjudul “Tembang dan Perang” (TP) karya sastrawan dan Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), Dr Junaedi Setiyono MPd, dinilai memperluas wawasan tetang sejarah cerita Panji yang telah populer di Indonesia.

Novel ini juga memotivasi generasi muda untuk mendalami sejarah melalui aktivitas literasi.

Terkait hal itu, Dewan Kesenian Purworejo (DKP) pada Selasa (15/12) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Cerita Panji sebagai Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Mati”.

Seminar diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan dan daerah di Indonesia. Sejumlah pembicara kelas nasional juga turut hadir secara virtual.

Prof Dr Ir Wardiman Djojonegoro (Mendikbud RI 1993-1998 dan Promotor Mow Unesco untuk Babad Diponegoro, Arsip-arsip Konferensi Asia-Afrika dan Cerita Panji) menjadi pembicara pertama dengan judul materi Mengupas Novel “Tembang dan Perang” dan Serba Serbi Panji.

Dr Ganjar Harimansyah MHum (Kepala Balai Bahasa Jateng) hadir bersama Kustri Sumiyardana SS MHum (Peneliti Muda Balai Bahasa Jateng).

Pembicara berikutnya yakni Dr Sudibyo MHum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), Dr Junaedi Setiyono MPd, serta Dr Umi Faizah MPd (Ketua Prodi PBSI UMP). Webinar berlangsung interaktif dimoderatori Henri Nurcahyo (Pegiat Literasi Panji).

Dalam paparannya, Prof Wardiman mengapresiasi produktivitas Junaedi Setiyono dalam menulis buku di tengah kondisi Indonesia yang minat baca-tulisnya masih rendah.

“Untuk menjadikan Panji diterima sebagai kebanggan kita, kita harus bangga dengan produk Pak Junaedi ini karena memperluas sejarah tentang cerita Panji,” katanya.

Disebutkan, Panji sesungguhnya adalah nama kumpulan dari Sastra dan Budaya, yang bermula sebagai cerita rakyat pada tahun 1300-an, pada masa bangkitnya Majapahit.

Cerita-cerita Panji menjadi sangat popular dan menjadi inti dari berbagai pagelaran budaya zaman itu, seperti tarian, berbagai wayang (wayang beber, wayang geletuk, tari topeng, wayang wong), dan juga diabadikan dalam berbagai relief di sedikitnya 20 candi di Jawa Timur.

Menurutnya, masyarakat Indonesia patut berbangga kepada nenek moyang yang berhasil mengembangkan Sastra dan Budaya Panji.

“Banyak hal yang membuat kita kagum dan memberikan apresiasi atas genius lokal nenek moyang kita,” ungkapnya.